Cerita Remaja Mengajari Anal Anak Sma



Cerita Sexxxx - Hari seninnya setelah mengurus surat ini itu dari kampus, saya pribadi ditugaskan oleh Kepala Sekolah SMU tersebut untuk pribadi terjun ke lapangan dan mengajar matematika untuk murid kelas XI. Aku kebagian 4 sesi di kelas pagi dan 2 sesi di kelas siang. Waktu pertama kali saya mengajar di kelas, saya berkata dalam hati “Astaga, ini sekolah apaan? Gua ngomong ga ada yang ngedengerin…mana cewe-cewenya pake rok pendek semua!”

Novel Seks Besoknya saya kembali ke sekolah dengan perasaan gundah dan cemas. Jangan-jangan saya salah pilih karir menjadi guru. Aku ngga berbakat mengajar..anak-anak tak ada yang mendengarkan waktu saya lagi bicara”. Tapi ternyata ada satu hal yang membangkitkan semangatku. Di sesi kelas sore ada murid wanita yang berjulukan Ratih. Kulitnya sawo matang, rambut sepunggung, tingginya kira-kira 158 cm. Mukanya tidak terlalu cantik, tapi manis banget bila lagi senyum. Dan yang lebih penting, kelihatannya beliau satu-satunya murid yang kelihatan antusias bila saya lagi mengajar. Dalam benakku sempat terlintas hal yang tidak-tidak, namun pikiran itu kubuang jauh-jauh. “Aku seorang guru. Aku akan menjaga integritas almamater dan profesiku” bisikku dalam hati.

Tapi semakin hari kemolekan badan Ratih malah semakin menggodaku. Seringkali saya mengintip paha mulusnya dan terkadang terlihat CDnya yang berwarna putih. Apalagi saya tahu beliau juga suka padaku. Kalau saya masuk kelas, teman-temannya niscaya menggodanya. Sampai suatu hari saya memutuskan untuk mengadakan ulangan pertama untuk bawah umur kelas XI. Lalu hal yang sangat menegejutkan pun terjadi. Waktu saya menyidik lembar tanggapan Ratih, ada goresan pena :”Pak Rudi ini nomer hp saya: 0819*********”.

Perasaanku campur aduk ketika itu. “Telfon jangan yah” kataku dalam hati. Kalau saya telfon, artinya saya sudah menjatuhkan martabat profesiku sebagai guru. Kalau saya tidak telfon, saya akan menyesal alasannya tugasku sebagai guru PKL hanya tinggal 2 ahad lagi. Akhirnya kuberanikan diri untuk menelfon Ratih malam itu juga. Anehnya, waktu saya telfon, seakan-akan antara saya dan Ratih sudah menyerupai sahabat lama. Tidak ada batasan antara guru-murid. Yah, mungkin alasannya waktu itu juga umurku masih 22 tahun, sedangkan Ratih masih 17 tahun, jadi tidak terlalu jauh. Akhirnya kita janjian untuk jalan bareng hari sabtu setelah beliau selesai kelas olah raga.

Hari sabtu yang ditunggu-tunggu jadinya tiba juga. Kita sengaja janjian bertemu di Palaguna…mall butut tapi kondusif tidak akan dilihat orang. Waktu bertemu, beliau masih mengenakan kaus olahraga Sekolah Menengan Atas yang longgar dan rok SMA. Sehingga bila menunduk, terlihat terperinci payudaranya yang montok. Darahku pribadi mendidih melihat Ratih. Langsung kukeluarkan jurus-jurus penaklukku:
“Ratih, kita ke kawasan kak Rudi aja yuk. Nonton VCD atau apalah. Soalnya bila dilihat orang ngga enak”.
Awalnya Ratih menolak alasannya awalnya beliau mau mengajak makan dan nonton. Tapi alasannya kupaksa, lama-lama beliau baiklah juga. Aku girang setengah mati. “Yes..berarti beliau dapat dipake” batinku.

Sesampainya di kawasan kost-ku,awalnya kita cuma nonton VCD sambil ngobrol-ngobrol. Lama kelamaan, topik pembicaraan kita mulai mengarah ke duduk masalah pacar, sex dll. Karena terbawa suasana, entah siapa yang memulai, tiba-tiba kita sudah berciuman. Bibirku dan bibir Ratih berpagutan saling mengulum penuh nafsu. Wangi mulutnya sangat khas.

Lalu beliau mulai menjilat-jilat indera pendengaran dan leherku. “Buset, kayanya udah andal ni orang” batinku. Karena nafsu sudah di ubun-ubun, saya mulai menyisipkan tanganku kedalam kaus olahraga Ratih dan kuremas-remas payudaranya. Nafas Ratih semakin memburu sewaktu kulepas kaus dan BHnya. Meskipun kulitnya sawo matang, putingnya berwarna coklat terang. Ukurannya tidak terlalu besar, mungkin 34B. Tapi sangat padat.

Ratih membalas dan mulai membuka kaus kemejaku. Tangannya masuk kedalam celanaku dan mulai meremas-remas kontolku. Lidahnya menjilat-jilat putingku dan tangannya tidak berhenti meremas-remas kontolku. Tidak hingga 5 menit, kita berdua sudah telanjang bulat. Tak usah disuruh, Ratih sudah pribadi menciumi kontolku. Yang sangat membuatku kagum, beliau meludahi seluruh kontolku hingga benar-benar basah, mengocoknya, gres mulai menghisap dengan mulutnya dengan gerakan naik-turun. “Edaaan” kataku dalam hati. Pasti beliau sering main beginian.

Saking enaknya, gres 3 menit dihisap saya sudah tidak tahan untuk keluar. Spermaku muncrat di ujung mulutnya Ratih. “Yah, Ka Rudi, ko udah keluar lagi?” katanya. “Tenang aja, saya masih dapat kok” kataku. Sekarang gantian saya yang menjilati pussynya. Dia menggelinjang keenakan waktu saya menghisap-hisap klitorisnya. Perlahan-lahan, kontolku naek kembali alasannya wangi pussynya itu lezat banget. Tapi hal yang mengejutkan kemudian terjadi. Waktu saya mau menusuk pussynya dengan jari tengahku, beliau menolak. Ternyata beliau masih perawan!

Aku masih duduk keheranan. “Hah, kau masih perawan?” kataku. “Iya” timpanya. “Kak Rudi kaget yah?”. Lalu beliau bilang “kita petting aja yah..enak juga kok”. Ini pengalaman gres untukku. Ternyata lezat juga. Kaprikornus posisiku duduk, kontolku dilipat keatas dan beliau duduk diatasku sambil menggesek-gesekan pussynya ke kontolku.

Setengah jam berlalu, beliau sudah keluar berkali-kali, tapi kontolku malah lecet. “Ratih…kalo gini terus ****** ka Rudi sakit, kita udahan dulu aja yah”. Melihat raut muka kecewaku, Ratih terlihat merasa bersalah. “Duh maafin saya yah ka Rudi. Aku udah akad mau ngasih perawanku ke suamiku nanti. Tapi bila ka Rudi mau, masukin aja ke belakang”. Tanpa pikir panjang, alasannya sudah tanggung akupun menyetujuinya. Aku mulai mengoleskan nivea man dari kepala hingga ujung ******, dan tidak lupa anus Ratih saya tusuk-tusuk dengan jari tengahku.

Setelah Ratih sudah merasa nyaman, dengan gaya doggy style akupun mulai memasukkan kontolku kedalam anusnya dengan sangat perlahan. Untunglah barangku juga tidak terlalu besar, yah paling 12 cm. Ternyata sulit juga alasannya beliau terkadang merasa kesakitan sehingga harus mulai dari awal lagi. Setelah berkali-kali mencoba, jadinya seluruh kontolku masuk kedalam anus Ratih. Ternyata sensasinya luar biasa.

Anusnya sangat sempit dan rasanya menyerupai disedot-sedot vacuum cleaner. Akupun mulai menggerakan pantatku maju-mundur. Aku menyodomi Ratih sambil tanganku meremas-remas payudaranya dan mulutku menggigit-gigit lehernya. Ratih pun ternyata mengalami sensasi yang luar biasa, alasannya lenguhannya terdengar semakin keras.

Kemudian kita berganti posisi. Aku duduk disofa dan Ratih jongkok membelakangiku. Ini pemandangan yang luar biasa alasannya pantatnya yang indah tampak semakin besar. Anus Ratih menggejot kontolku dengan gerakan jongkok naik-turun. Tapi kemudian hal yang tak terduga (tapi bergotong-royong sempat terpikirkan) pun terjadi.

Tiba-tiba ada aroma tidak sedap yang mampir ke hidungku. Benar saja, ternyata dari anus Ratih mulai mengalir cairan warna coklat yang membasahi kontolku. Meskipun cairan itu sangat sedikit, tapi baunya cukup kentara. Anehnya, saya semakin terangsang. Aku pribadi mempercepat genjotanku dan tidak usang kemudian spermaku berhamburan di dalam anus Ratih.

Semenjak hari itu, saya dan Ratih beberapa kali melaksanakan ritual anal sex hingga kemudian tugasku sebagai guru PKL di sekolahnya berakhir. Aku pernah melakukannya di WC guru, juga sehabis kelas olah raga. Aku juga pernah melakukannya lagi di WC sebuah mall di Bandung. Aku kehilangan kontak dengan Ratih sejak saya ditugaskan di sebuah Sekolah Menengah Pertama di Ibukota, dan kemudian menikah dengan rekanku sesama guru.

close