Cerita Remaja Kasih Kenikmatan Untuk Tetangga Cantik

Cerita Dewasa Kasih Kenikmatan Untuk Tetangga Cantik

Cerita Dewasa - Aku sudah beberapa kali mengirim kisah porno ke situs-situs porno, tapi rasanya masih setumpuk pengalaman yang ingin kusumbangkan pada pembaca. Kali ini, saya akan kisahkan pengalamanku yang cukup menarik, khususnya bagi yang sering menduakan dengan tetangganya. Ceritanya begini… ***** Sekitar 40 hari yang lalu, tepatnya di hari ahad sekitar jam 5.00 subuh. Aku keluar rumah untuk olah raga atau berlari subuh sebagaimana yang kulakukan setiap hari ahad subuh. Namun, kali ini lari subuh yang kulakukan sangat bermakna, lantaran saya ditemani oleh seorang tetangga dekat. Sebut saja namanya “Risa”.

Dia yaitu istri sah orang lain yang sudah mempunyai 2 orang anak, tapi penampilannya masih cukup menarik. Kulitnya mulus, putih dan tubuhnya langsing. Ketika saya keluar melewati pintu pagar, secara kurang jelas saya melihat sesosok badan dengan kaos warna hitam menempel di tubuhnya serta celana setengah panjang tergantung di atas lututnya membuka pintu rumahnya kemudian mengikutiku. Aku tetap saja jalan agak cepat dan berpura-pura tidak memperhatikannya, tapi ketika saya memasuki sebuah lorong, iapun semakin erat di belakangku. Aku sangat yakin kalau Risa sengaja mengejarku untuk berlari subuh bersama. “Pak, tunggu Pak” panggilnya dari belakang, tapi saya tetap berlari, tapi sengaja kukurangi kecepatannya biar ia bisa lebih erat denganku. “Pak Roby, tunggu donk Pak, saya capek nih, kita sama-sama aja” teriaknya dengan bunyi yang tidak terlalu keras.

Setelah kudengar nafasnya terengah-engah lantaran jaraknya sudah semakin erat denganku, mungkin sekitar 10 meter di belakangku, saya kemudian berhenti menunggunya, lantaran kedengarannya ia capek sekali. “Ada apa Bu, kenapa ibu mengejarku?” tanyaku sambil berhenti. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya mengejar bapak biar kita bisa lari bersama, biar lebih santai dan kita bisa sambil ngobrol” katanya dengan nafas terputus-putus lantaran kecapean.

Setelah Risa berada di samping kiriku, kami kemudian lari bersama, tapi kali ini tidak terlalu kencang, bahkan terkesan lari-lari kecil, yang penting badan kami bisa bergerak-gerak sehingga terkesan berolahraga pagi. “Ngomong-omong, apa ibu juga secara rutin lari subuh setiap hari minggu?” tanyaku pada Risa sambil berlari kecil. “Nggak kok, cuma kebetulan kudengar pintu rumah bapak terbuka dan kulihat bapak keluar berpakaian olah raga, sehingga tiba-tiba saya juga tertarik untuk menyegarkan badan dan menghirup udara subuh” jawabnya. “Kenapa Nggak sekalian keluar sama suami ibu atau bawah umur ibu?” tanyaku lagi sambil tetap berlari. “Anu Pak, suami saya itu gres saja pulang dari jaga malam, maklum kerjaan satpam jarang sekali bermalam di rumah” jawabnya santai.
Kebetulan suami Risa kiprah malam sebagai satpam pada salah satu perusahaan swasta di kota kami. Mendengar ucapan Risa itu, saya jadi terpancing untuk bertanya lebih jauh perihal kehidupan rumah tangganya. Apalagi kami sudah sering bicara humor. Aku sangat paham kalau Risa orangnya terbuka, lugu dan sedikit genit. Aku merasa berpeluang besar untuk bertanya lebih banyak padanya soal hubungannya dengan suaminya.

“Maaf Bu, kalau saya terlalu jauh bertanya. Makara kedua anak ibu itu dicetak pada siang hari semua donk, lantaran suami ibu jarang berada di rumah pada malam hari,” kata saya pada Risa, namun ia tetap tidak tersinggung, bahkan nampaknya ia tetap bersikap biasa-biasa saja. “Bukan pada siang hari Pak, tapi pada subuh dan pagi hari, lantaran biasanya suami saya pulang pada subuh hari dan pribadi saja mengambil jatah malamnya, apalagi dalam keadaan ia haus,” katanya santai. Setelah capek, kami beristirahat sejenak di atas jembatan sambil bersandar di pagar besi jembatan. Kebetulan di atas jembatan itu, banyak orang sedang ngobrol dan membahas masalahnya masing-masing. “Bu Risa, kalau begitu waktu anda bekerjasama dengan suami anda selalu singkat dan dilakukan secara terburu-buru, lantaran bawah umur anda sudah mulai bangun, lagi pula suami anda sangat ngantuk” pancingku padanya. “Yah begutulah kebiasaan kami, kemudian mau apa lagi jikalau memang waktunya yang paling sempurna hanya ketika itu. Sebab di siang hari, bawah umur kami pada berkeliaran dalam rumah dan tamu-tamupun yang tiba harus disambut” katanya serius, tapi tetap santai. “Kalau begitu anda tidak pernah menikmati kekerabatan suami istri yang sebetulnya sebagaimana layaknya suami istri” pancingku lagi. “Kok kenapa tidak, kami merasa sama-sama menikmatinya. Buktinya kami punya dua orang anak” katanya serius sekali sambil memandangiku. Tanpa berhenti bicara, kami kemudian berjalan lagi memutar ke jalan menuju rumah kami kembali. Aku coba memikirkan apa lagi yang sanggup kutanyakan pada Risa mengenai hubungannya dengan suaminya.

Ini kesempatan emas bagiku untuk mengetahui lebih dalam lagi perihal kehidupannya di atas ranjang bersama suami, lantaran saya berniat menciptakan ia ingin tau biar merasa membutuhkan sex lebih dari yang didapatkan dari suamianya. Aku sebetulnya ingin merangsang beliau biar mau melaksanakan bersama denganku. “Bu Risa, sex itu sebetulnya melebihi dari apa yang anda lakukan bersama suami anda.

Suami-Istri harus menikmati kepuasan berkali-kali minimal selama 3 jam tanpa sedikitpun rasa tergesa-gesa dan takut. Menerapkan berbagaimacam gaya dan posisi. Anda tentu tidak sempat menikmati semua itu khan?” terang saya pada Risa panjang lebar. “Oh yah, tapi bagaimana caranya jikalau suamiku tidak memungkinkan melaksanakan hal itu atau tidak mau melakukannya?” tanyanya serius. Nafas Risa sangat keras kedengaran ketika ia selesai menanyakan hal itu, bahkan sempat memandangiku dengan penuh harap dan bergairah. “Sekiranya ada orang lain yang bersedia menunjukkan kenikmatan itu pada Ibu Risa, apa ibu tidak keberatan menerimanya?” tanyaku lebih berani. “Orang lain siapa misalnya?” tanyanya sambil berhenti. “Sa.. Sa.. Saya misalnya. Maaf ini hanya sekedar misal Bu” jelasku sedikit khawatir kalau-kalau ia tersinggung dan memarahiku. “Be.. Betulkah ucapan bapak itu? Mana bapak mau sama saya” ucapannya. “Boleh saja terjadi jikalau memang hal itu sama-sama dibutuhkan, apalagi terhadap perempuan manis lagi muda menyerupai ibu Risa ini” ucapku sambil tersenyum memandangi wajah ibu Risa yang bertubuh langsing itu. “Ha.. Ha.. Ha, bisa aja bapak ini. Gombal ni yee” katanya terbahak. “Betul Bu. Aku serius. Aku tidak main-main nih..” kataku tegas.

Mendengar ketegasanku itu, Ibu Risa tersentak kaget dan tiba-tiba meraih tanganku kemudian mengajakku berhenti di pinggir jalan. Sambil kami berhadap-hadapan dengan jarak sekitar 2 jengkal. Risa kemudian berkata: “Bila ucapan bapak itu benar dan serius, akupun serius dan bersedia. Tapi bagaimana caranya Pak biar perbuatan kita lebih aman?” tanyanya. “Suamimu biasanya bangunnya jam berapa?” tanyaku lebih mengarah lagi.

“Biasanya jam 11.00 atau 12.00 siang” jawabnya serikus sekali. “Kebetulan sekali istri dan anak-anakku mau mudik membesuk keluarga. Mungkin jam 5.00 sore gres balik.
Bagaimana kalau ibu bilang sama anaka-anaknya bahwa ibu mau ke pasar, kemudian ibu masuk ke rumahku?” tawaranku lebih lanjut. “Oke, tunggu saja Pak. Sebentar saya akan masuk dari pintu belakang rumah bapak biar tidak ada yang melihatku” katanya berbisik.

Setelah kami sepakat, kami kemudian berpisah dan lewat jalan yang berbeda biar tetangga tidak curiga pada kami, apalagi sudah jam 6.30 menit. Hanya sekitar 5 menit sesudah saya masuk ke rumah, pintu belakang rumah kelihatan terbuka dengan pelan. Ternyata Ibu Risa menepati janjinya. Ia masuk dengan pelan tanpa mengganti pakaian yang dipakainya tadi. Hanya saja amis tubuhya terasa lebih harum menyengat di hidungku. “Bu, adakah yang melihat ibu ke sini?” tanyaku sesudah saya menutup dan mengunci pintu depan dan belakang. “Tidak ada Pak. Suamiku masih tertidur nyenyak dan anak-anakku lagi main di luar dengan teman-temannya. Aku mengunci pintu dari luar” katanya sambil jalan menuju daerah tidurku. Setelah kami duduk berdampingan di pinggir daerah tidur, kami sempat bertatapan muka tanpa sepata katapun sejenak. Namun, lantaran kami sudah saling ingin tau dan saling terbakar nafsu, maka kami kemudian segera berbalik arah sehingga kami saling berhadap-hadapan dengan jarak yang erat sekali. Karena dekatnya, maka nafas Risa terasa menyapu hidungku yang menciptakan saya sedikit gemetar. “Ayo Bu kita mulai permainannya” pintaku sambil kuulurkan kedua tanganku untuk meraih kedua tangannya. “Terserah bapaklah. Aku turuti saja kemauan bapak” katanya sambil menatap wajahku.

Mula-mula saya menyentuh kedua tangannya, kemudian naik ke lengan, bahu, leher, pipi dan telinganya hingga mengelus-elus rambut dan dagunya. Risa hanya membisu mendapatkan perlakuanku. Namun sesudah kedua tanganku merangkul punggungnya dan mencium pipi dan bibirnya, iapun mulai bergerak membalasnya, sehingga kami saling berpagutan dan mengisap.

“Boleh saya masukkan tanganku Bu?” tanyaku sambil menyelusupkan kedua tanganku masuk di balik kaos yang dipakainya dan secara perlahan menembus masuk di balik BH tipis yang dikenakannya. Risa hanya mengangguk sambil merangkulku dengan keras dan merapatkan tubhnya di tubhku, sehingga terasa hangatnya di dadaku. “Boleh kubuka pakaiannya Bu?” tanyaku lagi sesudah puas memainkan kedua payudaranya dari dalam pakaiannya. Ia lagi-lagi hanya mengangguk dan melonggarkan rangkulannya guna memudahkan saya melucuti pakaiannya.

Setelah kaos dan BH yang dikenakannya semuanya terlepas dari tubuhnya, saya sejenak melepaskan rangkulan dan pagutan untuk memperhatikan indahnya bentuk tubuhnya yang telanjang, terutama kedua payudaranya yang tergantung di dadanya. Aku sempat terperangah ketika menyaksikan kedua payudaranya yang sangat putih dan mulus, bahkan ukurannya cukup sederhana dan masih keras menyerupai belum pernah terjamah saja. Maklum kedua anaknya tidak pernah menetekinya, lantaran keduanya semenjak lahir memang dibiasakan meminum air susu kaleng dengan botol. Setelah puas memandanginya, saya segera meraih kedua bukit kembarnya dan menyerangnya secara bergantian dengan mulutku. Kuhisap putingnya berkali-kali biar ia cepat terangsang. Risa hanya bergelinjang dan berdesis.
“Aduh, cepat buka Pak, saya sudah tidak tahan nih. Ayo Pak” pintanya berkali-kali, namun saya sengaja tidak peduli ucapannya. Bahkan saya semakin mempercepat isapanku pada teteknya, lehernya, pusarnya dan seluruh badan telanjangnya. “Ayo donk Pak, buka cepat pakaiannya, saya sudah tak tahan” pintanya lagi. Kali ini kubuka bajuku kemudian celana panjang yang kupakai berlari tadi. Setelah tersisa hanya celana kolorku saja, saya kemudian menurunkan celana setengah panjang yang dikenakannya, sehingga kami sama-sama setengah bugil. Kami saling berpelukan dan bergulingan di atas kasur sambil saling meraba seluruh tubuh. Setelah itu saya mengangkanginya, kemudian menelanjanginya sesudah menelanjangi diriku. Kini kami sudah sama-sama bugil tanpa sehelain benangpun menutupi badan kami. “Pak, ayo dong Pak. Masukkan cepat, saya sudah ingin sekali menikmatinya biar cepat selesai” bisiknya sambil menarik tubuhku lebih erat ke arah kemaluannya. Aku patuhi permintaannya. Aku dengan gampang membuka kedua pahanya, sehingga nampak terang kelentitnya yang mungil berwarna merah jambu muda. Terasa sedikit berair oleh cairan pelicin yang keluar dari sela-sela vaginanya. Bulu-bulu yang tumbuh di sekitarnya cukup tipis dan rapi seolah terawat dengan baik. “Tahan donk sayang, waktu kita masih panjang. Lagi pula kan saya akan tunjukkan semua permainanku yang belum pernah ibu rasakan” pintaku sambil meraba-raba dan sesekali menusuk-nusuk dengan telunjuk pada lubang yang sedikit menganga di antara kedua pahanya itu.

“Boleh kucium dan kujilat inimu Bu?” tanyaku sambil mendekatkan kepalaku ke selangkangannya. “Terserah dech, tapi jangan lama-lama, lantaran saya semakin tak tahan lagi” katanya pasrah. Risa bergelinjang kuat.

Pantatnya terangkat-angkat ketika saya menusuk-nusukkan lidahku ke lubang kemaluannya, apalagi ketika saya menggigit-gigit kecil kelentitnya yang agak keras dan kenyal itu. Ia semakin berdesis dan setengah berteriak akhir perlauanku yang mengasyikkan itu. Ia sangat menikmatinya, bahkan menekan kepalaku lebih dalam lagi. “Boleh kumasukkan kini Bu?” tanyaku meski saya yakin ia sangat mendambakannya dari tadi.

Secara berlahan tapi pasti, ujung kontolku mulai menyentuh kelentitnya kemudian bergeser mencari lubangnya. Setelah ketemu, bertahap mulai menyelusup masuk. Bahkan ketika masuk separoh, saya berniat berlama-lama disiti, tapi dasar perempuan yang sudah sangat penasaran, maka ia segera menarik punggungku dan mengangkat tinggi-tinggi pantatnya, sehingga kontolku amblas seluruhnya tanpa bisa lagi kukendalikan.

“Aahhkkhh.. Uukk.. Hhmm.. Eeanaakk.. Sesekaali. Teerus Pak, ayoo..

Gocokk.. Llrr.. Hh.. Aauuhh” itulah bunyi yang sempat dikeluarkan dari lisan Risa ketika gocokan kontolku semakin keras dan cepat. Ia bagaikan orang kehausan yang menemukan air minum. Diteguknya keras-keras dan napasnya seolah terputus sejenak menahan rasa kenikmatan yang kuberikan. Tanpa bicara lagi, Risa pribadi memutar tubuhnya, sehingga ia berada di atas mengangkangiku. Ia bagaikan orang naik kuda. Bunyi pantatnya sangat keras beradu dengan perutku, lantaran ia duduk di atasku sambil membelakangi wajahku. “Akkhh.. Uuhh.. Uuhh.. Aakkhh..” Suara itulah yang sempat keluar dari mulutku ketika kurasakan nikmatnya vagina Risa yang menjepit kemaluanku. Ia seolah tak kenal lelah dan tak mau berhenti melompat di atasku. “Akkhh.. Buu.. Buu..’ berhenti dulu donk. Kita istirahat dulu. Aku kecapean nih” teriakku ketika kurasakan ada cairan hangat yang mulai mau menyelusup keluar di ujung perutku. Tapi Risa tetap saja bergerak dan bergoyang pinggul di atasku tanpa peduli ucapanku. Karena ia tak mau berhenti, saya segera bangun dan berlutut sehingga ia secara otomatis nungging di depanku. Aku pribadi hantam dari belakang dan menggocok keras serta cepat hingga terasa cairan hangatku sudah berada di ujung penisku. Aku sudah tidak peduli di mana mau tumpah, apa di luar atau di dalam kemaluan Risa. Yang penting puas.

“Pak, cepat donk, terus gocok dengan keras, ayohh.. Uuhh.. Aahh.. Uummhh.. Auhh” kata Risa terputus-putus. Sedetik kemudian, Risa berteriak sedikit keras: “Aiihh.. Aakuu.. Kkeeluuaarr.. Paa” dan ketika itu pula saya tak bisa mengendalikan diri, sehingga cairan hangatkupun tumpah ke dalam rahim Risa. Apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur. Kami saling memberi kenikmatan yang luar biasa.

Pertemuan kemaluan kami terasa sangat rapat dan seolah melekat, sehingga terasa gemetar seluruh badan kami. Risa pribadi telungkup dan merapatkan perutnya ke kasur, sementara saya tetap menindihnya. Setelah hampir 2 menit kami tidak bergerak, karenanya kami saling telentang puas. Namun, tiba-tiba muncul rasa ketakutan dalam hati saya kalau-kalau Risa hamil akhir cairan kentalku masuk ke rahimnya. “Pak, terima kasih atas kenikmatan yang kamu berikan. Aku sama sekali gres kali ini merasakannya. Ternyata selama ini saya belum pernah mencicipi kepuasan dan menikmati sex yang sebetulnya dari suami saya. Kepuasan yang kuterima dari suami saya selama ini hanyalah semu dan..” belum selesai bicara, saya segera memotongnya dan berkata: “Maaf Bu bila kenikmatan yang sempat kuberikan masih sedikit, lantaran sedianya saya akan menunjukkan sebanyak mungkin, tapi lain kali saja, lantaran saya capek sekali. Habis kita gres saja lari subuh” balasku.
Setelah itu, kami saling berpelukan dan memberi ciuman perpisahan, kemudian kami bangun menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Di dalam kamar kami saling berbisik lantaran takut ada orang lain yang mendengar pembicaraan kami. Setelah kami berpakaian lengkap menyerupai semula, saya kemudian membuka pintu belakang rumahku dan menilik kalau-kalau ada orang lain yang kemudian lalang dan mencurigakan, tapi ternyata sepih. Aku masih mau tahan biar Risa istirahat sejenak untuk melanjutkan ronde berikutnya, tapi tiba-tiba Risa melihat jam tangannya kemudian segera pamit keluar lantaran katanya sudah pukul 10.10 menit siang. Suaminya sudah hampir bangun.

Iapun cepat-cepat kembali ke rumahnya. Besoknya kami sempat ketemu menyerupai layaknya tetangga dan kami akal-akalan bersikap biasa-biasa saja, namun hari ahad berikutnya, kamipun kembali berlari subuh bersama, tapi kami hanya sepakat untuk mengulangi persetubuhan kalau ada kesempatan kapan-kapan saja. Aku menjanjikan tip yang lebih nikmat lagi, dan iapun setuju. Cerita Sex
close