Cerita Sex ~Pada artikel kali ini saya ingin menceritakan pengalaman seks ku bersama kakak kandungku sendiri. Cerita Seks dengan Kakak Perempuanku yang Tomboy kira kira terjadi sekitar pertengahan tahun 2017, ketika saya lulus sebagai sarjana S1 disalah satu akademi tinggi di Jakarta.
Di kesempatan kali ini saya ingin menceritakan hubungan gelap ku dengan abang kandungku sendiri. Namaku Bayu dan Nama kakaku ini yaitu Kak Riska. Kak Riska ini umurnya masih 24 tahun, lulusan Sarjana bidang Broadcasting, sehingga ia bekerja disalah satu stasiun televisi swasta. Kuakui memang Kak Riska ini punya wajah yang cantik, rambut hitam panjang yang sering diikat kebelakang, tubuh langsing dengan payudara nya standar 34B menggantung indah serta pinggul dan bokong yang padat. Tetapi Kak Riska ini san Cerita Seks dengan Kakak Perempuanku yang Tomboy Merupakan Hadiah Terindah Yang Ku Terima Setelah Wisuda gat tomboy, walaupun ia mempunyai paras yang cantik.


Banyak laki-laki yang mendekatkan diri kepadanya, namun ia menanggapinya tak lebih dari seorang teman. Hal ini juga yang menciptakan para laki-laki yang naksir dengan kakakku ini menjauhinya. Ini juga yang menciptakan kakakku jadi jomblo diusianya yang sudah matang, padahal banyak sahabat temannya yang sudah menikah. Orang tuaku sendiri juga sudah aneka macam mengundang laki-laki kerumah guna untuk dikenalkan kepada Kak Riska. Namun dengan cepat Kak Riska menolaknya dengan alasan masih ingin berkarir. Orang tuaku pun hasilnya pasrah dan mengikuti keinginannya.
Nah sebagai adiknya, saya cukup erat dengan Kak Riska ini. Ya jika dipikir pikir kedekatan kami masih sebatas masuk akal lah, ibarat abang beradik pada umumnya. Aku pun sering curhat kepada kakakku perihal persoalan kehidupanku. Dan kak Riska ini menanggapi dengan sangat dewasa, pedoman logisnya sungguh sanggup menciptakan segala masalahku terselesaikan. Kaprikornus semakin hari saya merasa sangat sayang kepadanya hingga ketika ini.Pengalaman seks ku ini bermula di hari saya wisuda sehabis menuntaskan kuliahku selama 5 tahun lamanya.
Saat itu orang tuaku tidak sanggup menghadiri program wisudaku dikarenakan ada saudaraku yang jauh di kalimantan sedang sakit, dan orang tuaku sedang menjenguknya disana. Jujur saja saya sempat sedih mereka tidak sanggup tiba di program Istimewa ini. Beruntung ada Kak Riska yang menyempatkan dirinya mangkir dari kantornya untuk menemaniku ketika itu. Jadilah saya dan Kak Riska pergi bersama di program itu hingga selesai.
Setelah program wisuda selesai, saya menghampiri Kak Riska yang matanya sudah mulai berkaca kaca, alasannya yaitu terharu. Kak Riska impulsif memeluk tubuhku, saya pun balas memeluknya.
"Kakak gembira sama kau Bay" ucapnya sambil terharu melihatku.
Aku hanya sanggup tersenyum, gembira pada diriku sendiri.
"Kamu harus abang kasih hadiah nih, kau mau hadiah apa sayang" katanya kepadaku.
"Hmmm bener nih apa aja ? " tanyaku menantang.
"iya bayu, apapun yang kau mau abang niscaya kasih buat kamu" jawabnya manja.
"apa aja deh kak, Bayu mah pasrah aja bebas terserah kakak, Sekarang kita pulang dulu yuk, capek kak" ajakku. Memang sehabis Wisuda saya mencicipi capek juga. Kaprikornus saya tetapkan untuk pulang terlebih dahulu untuk istirahat dan dilanjutkan nanti malam saja perayaannya.
Aku pun menuju mobilku bersama Kak Riska dan memacu kendaraan beroda empat menuju rumah. Sesampainya dirumah saya eksklusif masuk ke kamar, berganti pakaian dan duduk di rumah menonton dvd film horror. Kali ini ada film horror yang tidak mengecewakan angker gres tayang dan saya sudah mempersiapkannya. Kaprikornus saya setel dvd itu dan mulai menontonnya. Tak usang kemudian Kak Riska tiba menghampiriku dan duduk disebelahku.
"Ihh bayu nonton apaan nih" tanya nya sambil membawa jus jeruk favoritnya.
"film horror gres nih, mau lihat bareng ?" tanyaku
"boleh deh" jawabnya singkat. Lalu ia semakin mendekatkan dirinya kepadaku. Saat itu Kak Riska hanya pake tanktop hitam sehingga dadanya tampak menonjol dan hanya memakai hotpants berwarna hitam juga sehingga tampaklah paha putihnya yang mulus itu
Sebenarnya ia berpakaian ibarat itu sudah biasa di rumah, tapi entah gerangan apa saya malah sering mencuri curi pandang kearah belahan dadanya yang sedikit terbuka itu. Walaupun sering melihatnya, tapi gres kali ini saya melihatnya dari dekat. Tak terasa kontolku mulai tegang secara perlahan. Bahkan disetiap adegan yang mengejutkan dan menakutkan dalam film itu, Kak Riska selalu memeluk lengan tanganku sehingga lenganku menyentuh dadanya yang kenyal itu. Kontolku pun malah tambah mengeras dibuatnya.
Akhirnya tiba adegan panas dalam film horror tersebut. Kuperhatikan Kak Riska melihat dengan seksama adegan itu sambil masih memeluk lenganku yang bergesekan dengan dadanya. Terlihat di layar abjad laki-laki sedang meremas remas dada abjad perempuan di sebuah kamar. Melihat itu, nafas kak riska mulai tak beraturan. Lenganku pun makin dipeluk erat bahkan digesek gesekkan ke dadanya. Wajahnya memerah tetapi tetap fokus memperhatikan layar. Pasti lagi nafsu nih kakaku pikirku dalam hati.
Aku pun kemudian berinisiatif, ku dekatkan wajahku ke wajah Kak Riska kemudian kukecup lembut pipinya. Seketika Kak Riska menatapku, mata kami saling bertatapan. Tiba tiba kak Riska eksklusif mencium bibirku dengan lembut. Kubalas ciuman kakaku ini dengan mesra. Lama sekali kami berciuman walaupun secara perlahan. Nafas Kak Riska sudah sangat memburu, bahkan tidak beraturan. Lama kelamaan ciuman itu berubah, bukan hanya saling mengecup satu sama lain namun kali ini saling melumat, menghisap, bermain pengecap satu sama lain layaknya sepasang kekasih.
Tanganku pun tak tinggal diam, saya meraba dada Kak Riska, kuremas perlahan membuatnya melenguh, mendesah desah. Aku semakin berangasan dibuatnya, Kak Riska pun semakin liar melumat bibirkua, menciumi setiap bab di wajahku, bahkan hingga ke indera pendengaran dan menciptakan cupang di leherku.
Aku yang semakin asik dan berangasan dengan dadanya itu. Tanganku mulai masuk kedalam tanktopnya, dan bh yang digunakannya untuk meraba dadanya itu. Kak Riska pun menyadari itu. Ia pun mengerti dan bangun untuk membuka tanktop nya beserta bh hitam yang digunakannya. Terpampanglah dua buah payudara yang kenyal dengan ukuran yang menurutku pas dengan tanganku ini. Langsung saja kurebahkan ia di sofa kemudian kuciumi wajahnya dengan penuh nafsu, kemudian makin usang turun ke payudaranya dan berhenti disana.
Kuperhatikan sejenak memandang kawasan itu, kuremas pelan dengan kedua tanganku. Lalu kupilin perlahan putingnya, menciptakan Kak Riska mendesah pelan tertahan. Setelah itu tanpa basa-basi eksklusif kuhisap puting payudara Kak Riska yang berwarna merah muda dan kuremas memakai bibirku. Aku benar-benar menikmatinya ibarat bayi yang kelaparan sedang menyusu pada ibunya. Sesekali kumainkan puting payudaranya dengan lidahku, kemudian kuhisap kembali.
Karena terlalu asik, saya tak sadar bahwa Kak Riska sudah melepas kaos yang kugunakan, sehingga dada ku yang rata terlihat dan bersentuhan eksklusif dengan kulit mulusnya. Cukup usang kunikmati kedua payudara Kak Riska ini, kulumat keduanya bergantian. Kak Riska pun seolah olah tak ingin melepaskanku, ia malah menekan nekan kepalaku berpengaruh kuat pada payudaranya.
Tak terasa tubuh kami berdua sudah bermandikan keringat. Aku pun ingin melanjutkan permainan ini hingga akhir. Aku sangat ingin berafiliasi seks dengannya.
"Kak boleh saya minta berafiliasi seks dengan abang ?" ujarku sambil menghentikan gerakanku menghisap payudara kakakku.
"hmmm, tadi kan kakakmu ini bilang sama kamu. Kamu boleh minta apa saja sayang, abang niscaya kasih ke kamu" ucapnya.
"Kamu boleh kok seks dengan kakak, kini sini sayang puaskan kakakmu ini" sambungnya.
Bagaikan mendengar geledek, saya pun tolong-menolong terkejut, kakaku yang tomboy ini sanggup jadi ibarat ini. Takkan kusia siakan kesempatan ini, eksklusif saja badannya kutindih dengan badanku, dan kucium serta ku lumat bibirnya.
"aaahhhh ....sayannggg...pelan.pelan dong.." desahnya..
Terus kuciumi seluruh wajahnya. hingga lehernya yang menciptakan dirinya mengejang. Tanganku tak tinggal diam, ku buka hotpants miliknya. Seolah mengerti keinginanku, Kak Riska mengangkat pantatnya ke atas sehingga memudahkanku melespas hotpants serta celana dalamnya. Lalu saya pun berjongkok sempurna di depan lubang memeknya. Kak Riska pun melebarkan pahanya yang menciptakan gundukan memeknya semakin terlihat. Kuperhatikan sejenak dan kuraba memakai tanganku.
Ternyata memek Kak Riska sudah sangat lembap oleh cairan kewanitaannya. Kubuka belahan memeknya kemudian kujilat memakai lidahku. Kusapu bab itu berulang kembali memakai lidahku yang menciptakan Kak Riska eksklusif mengejang dan mendesah desah.
Kugunakan bibir serta lidahku untuk mempermainkan klitorisnya yang semakin membesar.
"eeggghhhhh.....bay.....aaaacchhh.." desahnya tak tertahankan, Kak Riska terus mendesah ketika saya menekan lidahku pada liang memeknya serta tanganku yang memainkan klitorisnya. Saat lidahku semakin masuk kedalam memeknya, Kak Riska semakin terengah-engah. Nafasnya sudah memburu tak karuan. Aku pun semakin asik dan liar menjilati bab sensitif kakakku ini, semua tempat di bab memeknya sudah tersapu oleh pengecap dan juga air liurku sendiri.
Tak usang kemudian Kak Riska mengejangkan tubuhnya. Aku mencicipi lidahku dialiri oleh sesuatu yang hangat. Bersamaan dengan erangan keras dari Kak Riska yang menekan kepalaku ke memeknya seakan tak mau melepaskan kepalaku dari sana. Pahanya juga malah menjepit kepalaku dengan sangat kencang, hingga saya sulit untuk bernafas dibuatnya. Aku pun eksklusif menjilati cairan itu hingga bersih, rasanya sangat yummy menurutku. Setelah selesai saya naik ke atas dan kuciumi lagi wajah kak riska.
"Kak, saya sudah gak tahan nih" ucapku padanya.
"Kakak juga bay, masukin kini ya" ujar kak Riska.
"pelan pelan ya bayu," sambungnya sambil mencium bibirku mesra.
Kubalas ciumannya sejenak, kemudian kufokuskan mengambil posisi sempurna diselangkangan kakakku. Ku posisikan kontolku yang sudah tegak maksimal ke bibir memeknya. Kugesek gesek sebentar di bab itu, nafsu Kak Riska pun bangun kembali.
"Ihh bandel kau ya" dengan wajah genitnya.
"Siniin kontol kamu" dengan sekejab diraihnya batang kontolku, digemgamnya dan diarahkan ke lubang memeknya. Setelah hingga sempurna dilubang memeknya, kudorong perlahan kontolku ke dalam memek Kak Riska. Sulit sekali, beberapa kali kucoba tetapi tetap gagal. Pada percobaan ke 4 kucoba dorong sedikit lebih berpengaruh dan hasilnya masuk lah kepala kontolku ke dalam memeknya Kak Riska.
Kak Riska kelihatan meringis sedikit kesakitan, tetapi tetap menyakinkanku untuk memasukkannya lebih dalam. Aku justru mencicipi nikmat sekali, kepala kontolku terasa terjepit dan diremas remas. Karena sudah berangasan saya ingin mencicipi yang lebih nikmat, kudorong lagi secara perlahan. Tetapi rasanya sangat sulit, walaupun sudah banyak cairan kewanitaan abang yang membasahi memeknya, dan pada hasilnya kutekan dengan berpengaruh kontolku ini.
"“Aduuh.. sakiitt Bayuuu...."jeritnya ketika saya mendorong kontol ku berpengaruh kuat ke dalam memeknya. Kudiamkan sejenak kontolku itu, sambil kuciumi bibir kak riska. Kuremas remas payudaranya itu sehingga usang kelamaan sakit yang dialami Kak Riska hilang dan berganti dengan rasa nikmat. Aku pun juga mencicipi kenikmatan di batang kontolku. Kontolku rasanya ibarat di hisap, di jepit, diremas oleh memek Kak Riska. Kunikmati setiap remasan di memeknya menciptakan kontolku semakin tegang dibuatnya.
Setelah kudiamkan beberapa saat, saya mulai memaju mundurkan kontolku dengan perlahan. Rasanya sangat nikmat, kontolku ibarat diurut oleh memeknya. Perlahan tapi niscaya terus kumaju mundurkan kontolku di lubang memeka kak Riska ini. Kak Riska hanya sanggup melenguh dan mendesah setiap kontolku menyodok lubang memeknya. Setiap gerakannya menciptakan payudara Kak Riska bergoyang mengikuti irama genjotanku.
Aku pun semakin kenikmatan ketika Kak Riska mengangkat pantatnya sedikit ke atas. Kontolku masuk lebih dalam kedalam memeknya, menciptakan setiap sodokannya semakin berasa enak. Kak Riska terus mendesah tak karuan bahkan hingga berkata kotor yang menciptakan nafsuku semakin naik tinggi ke atas. Lama kelamaan saya mempercepat gerakan pinggulku, Kak Riska terus saluran mendesah tanpa hentinya sambil menyebut namaku. Aku hanya sanggup fokus menikmati jepitan memek kakakku ini.
Ku hentakkan pinggulku dengan keras menciptakan Kak Riska semakin menjadi jadi. Bahkan pantat kak Riska sengaja di tekan kan ke pada kontolku sehingga kontolku masuk lebih dalam lagi. Semakin usang semakin cepat gerakanku, yang tadi nya teratur kini sudah tak teratur lagi. Kuremas kedua payudaranya dan Kak Riska merespon dengan memegang kedua tanganku. Kepalanya digeleng gelengkan kekanan dan ke kiri sambil memejamkan mata dan mengerang keras. Dan pada hasilnya tubuhnya mengejang berpengaruh diikuti dengan semburan cairan di memeknya. Kak Riska pun tergolek lemah di sofa. Kami pun sudah sangat berkeringat alasannya yaitu acara kami itu, terumata Kak Riska.
Aku pun menghentikan gerakanku karna kutau Kak Riska gres saja orgasme. Kuciumi bibirnya dengan mesra yang disambutnya dengan cara yang sama. Tetapi kontolku masih tetap tegang, berdiri tegak karna masih belum keluar.
"Kak, masih belum keluar nih" ujarku.
"ihh kau ini ya, udah dulu ya kakakmu ini capek banget" jelasnya kepadaku.
Aku pun mencabut kontolku dari memeknya, seketika keluarlah cairan kewanitaannya bersamaan dengan darah yang mengalir melalui memeknya. Tanda bahwa ia gres saja kehilangan keperawanannya.
"yaudah sini deh abang bantuin supaya cepet keluar" kak Riska bangun kemudian mulai menyuruhku duduk. Aku pun duduk di sofa sedangkan Kak Riska malah jongkong persis didepan batang kontolku.
Lalu dilap nya kontolku yang lembap karna cairan kewanitaannya serta darah perawannya itu. Lalu ia mulai menjilati seluruh bab kontolku yang membuatku bergetar kenikmatan. Apalagi disaat kak Riska menjilati lubang kencingku, saya mendesis nikmat sambil menyebut nama kakakku. Tak usang kemudian kak riska mulai memasukkan kontolku ke dalam mulutnya. Dimainkannya kontolku dengan lidahnya dan mulai memaju mundurkan mulutnya.
Benar benar nikmat, verbal kak riska ternyata sangat handal dalam mengulum kontolku. Walaupun seluruh batang kontolku tidak masuk sepenuhnya, hanya 3/4 bagiannya. Entah verbal Kak Riska yang terlalu kecil atau memang kontolku yang terlalu besar untuknya.
Setelah sepuluh menit ia mengulum kontolku saya mencicipi sesuatu ingin keluar dari ujung kontolku ini. Aku pun memegang kepala abang ku dan ku maju mundurkan kepalanya dengan cepat. Kak Riska kaget dan bahkan hampir tersedak alasannya yaitu ulahku. Bahkan kurasakan kepala kontolku menyentuh tenggorokannya. Akhirnya kutekan kepala kak riska dan muncrat lah sperma kedalam mulutnya itu. Kak Riska pun menelan semua sperma ku yang keluar itu. Banyak sekali yang keluar bahkan hingga tumpah lewat sela sela verbal Kak Riska.
Aku pun terbaring lemas disofa sehabis orgasme itu, Kak Riska pun masih asik dengan kontolku yang masih di bersihkan dengan lidahnya. Setelah ia selesai, Kak Riska bangun kemudian tiduran di atas dadaku.
"Makasih ya bayu sayang, kakakmu ini puas sekali" ucapnya manja sambil mencubit pipiku.
"Aku yang makasih kak, makasih banget hadiahnya" jawabku.
"Aku sayang kakak" sambungku.
"kakak juga sayang kau bayu" jawabnya kemudian.
Kami pun berciuman sebentar kemudian tidur pulas di sofa hingga malam menjelang. Malamnya saya dan Kak Riska terbangun, dan hasilnya kami mandi bersama. Di dalam kamar mandi kami bahkan melaksanakan nya lagi entah hingga berapa kali Kak Riska orgasme ku buat.
Karena insiden ini saya dan Kak Riska semakin dekat, bahkan sudah ibarat pasangan suami istri. Kami terus menerus melaksanakan seks berdua ketika orang bau tanah kami belum kembali ke rumah. Hampir seluruh ruangan pernah kami jadikan saksi kegilaan kami, kamar tidurku, kamar tidur kak riska, kamar tidur orang bau tanah kami, ruang tamu, kamar mandi, pokoknya semaunya. Bahkan pernah saya melaksanakan seks ketika abang sedang sibuk memasak dan kugenjot dari belakang. atau pernah kami lakukan di bak renang kami di belakang rumah.
Kami terus melakukannya hingga ketika ini tentunya tanpa sepengetahuan orang bau tanah kami. Dan pada hasilnya kami pergi berdua ke kota Bandung dan bekerja disana. Disana kami mengontrak sebuah rumah tentunya dengan hasil uang kami sendiri. Tak sulit mencari rumah disana terlebih lagi kami abang adik yang mempermudah itu semua. Hampir setiap malam saya melaksanakan seks dengan kakaku yang semakin usang ketagihan dan semakin absurd akan seks. Bahkan hingga ketika ini kami masih terus melaksanakan seks dan untungnya kakakku tak pernah hamil.
