
“Ngga kuliah to Mbak?” tanyaku.
“Ngga, ada temenku tuh yang datang.” jawab Kak Lia santai.
Waktu saya masuk ke ruang tamu, kulihat sobat kakakku, Agnes, sedang nonton TV. Aku nggak tahu film apa itu. Aku masuk kamar buat ganti baju. Saat itu saya ngga bayangin yang ngeres-ngeres. Pada ketika saya keluar dari kamarku, Agnes menyapaku.
“Eh, Ro, filmmu ini anggun lho!”
“Eh, film apa emang?” tanyaku kaget.
“Ini, masa sama punya sendiri ngga tahu.”
Karena memang bingung, saya dekati Agnes, mau tahu film yang ia maksud.
“Eh.. ini ya?” jawabku kaget setengah mati. Soalnya film yang sedang ia tonton yakni film porno yang kupinjam dari temanku seminggu yang lalu. Astaga, pikirku, saya lupa mengembalikan.
“Kak.. kok sanggup tahu, darimana ya?” jawabku agak malu.
“Tadi kakakmu ngambil dari kamarmu, emang kalian belum pernah nonton bareng ya?” jawab Agnes.
“Ya.. belum sih, saya cuma pinjem bentar dari temen?” kataku.
Tiba-tiba kakakku muncul. Agnes bertanya kepada kakakku, “Dari mana, Li?”
“Ini beli jus di warung.”
Agnes terus bertanya kepada kakakku, “LI, adikmu ini mbok diajak nonton sekalian, semoga sanggup dipraktekin.. haha..”
Aku kaget mendengar pertanyaan Agnes. Langsung pikiranku mulai ngeres.
“Wah, ini sih kesempatan gue,” pikirku.
“Ngapain Ro? Nyengir-nyengir sendiri, mulai ngeres tuh pikiranmu, ngga apa ding. Kan udah gede.
Kamu sudah pernah ngeseks kan Ro?” tanya Agnes menggoda.
“Wah, jangan sampai hilang nih kesempatan,” pikirku.
“Eh, belum sih, tapi emang pingin, he..he.”
“Kalo gitu sini Ro, mumpung ada kita berdua.” goda Agnes.
Kakakku hanya senyum-senyum melihat aku. Wah, Mbak Lia ternyata nafsu juga nih.
“Ya deh, tapi entar Mbak, jadi kebelet kencing nih.”
“Wah, udah ngaceng tuh punyamu, Ro. Eh, Mbak Agnes ikut ya? Kita mulai di kamar mandi aja ya?”
“Eh Lia, entar ya, gue pinjem adikmu.” kata Agnes yang sudah bernafsu.
“Ha.. ayo deh,” jawabku.
Begitu saya mau kencing, Agnes langsung mengelus burungku dari belakang. Wah asyik nih pikirku. Agnes hanya diam sambil mengelus burungku yang sudah keluar air kencing.
“Sini saya bersihin.”
Aku sih mau aja. Agnes langsung jongkok di depanku dan menjilat kepala burungku sekalian dikulum-kulum sampai masuk ke mulutnya. Kupegangi kepala Agnes dan kugerakkan kepalanya ke kanan-kiri. Kemudian ia bangkit dan langsung mencium bibirku dengan semangat. Lidahnya dimainkan di mulutku, saya pun mengikuti permainannya saja. Tanganku mulai kugerakkan ke buah dadanya yang montok. Aku putar-putar tanganku dan kudorong-dorong susunya.
Agnes mendesih pelan, “Ahh..”
Kubuka bajunya sampai lepas dan kelihatan susunya yang dibungkus BH putih. Kualihkan mulutku ke sekitar susunya. Kucium-cium dan kemudian kulepas BH-nya.
“Wah, putingnya besar nih pikirku.”
Aku langsung mengulum putingnya dengan lembut dan tangan kiriku menggosok-gosok susunya yang satu lagi.
“Ah.. Teruss.. Ro,” rintih Agnes sambil tangannya terus memainkan burungku. Setelah agak lama kumainkan susunya, saya berjongkok mau membuka celana jeansnya.
Tiba-tiba Mbak Lia muncul dan ngomong, “Eh, diterusin di kamarku yok, TV-nya udah kupindah ke sana. Masak saya cuma liat doank.”
“I..ya deh, yuk Ro kita pindah.. Aaah..” jawab Agnes dengan gelinya sebab yakni tanganku mengenai lubang kemaluannya.
Setelah tamat kulepas celana Agnes dan tentu saja saya sudah telanjang, kugendong Agnes di depanku dengan lidahku memainkan putingnya.
Agnes mendesah, “Ahh..ah..ehh.”
Kubaringkan di ranjang kakakku dan kulihat kakakku sudah melepas bajunya. Kudatangi Mbak Lia. Agnes hanya diam saja dengan tangannya menggosok-gosok lubang kemaluannya sendiri. Langsung kucium lisan Mbak Lia dan kumainkan susunya dengan gerakkan memutar dan meremas.
“Ehh.. Srrp,” suara kakakku dengan lisan kami masih berciuman.
Tangan kakakku yang satu memegang pantatku dan yang satunya memegang burungku yang semakin besar saja rasanya. Lalu kuangkat kedua kaki kakakku dan kubaringkan pelan di ranjang. Dengan posisi saya di atas, kedua kaki kakakku melingkar di pinggangku, dan kugoyangkan pinggulku semoga burungku bergesekkan dengan lubang kemaluannya.
Lalu kuarahkan mulutku ke lubang kemaluan kakakku dan kujilat-jilat,
kemudian kumasukkan lidahku ke dalam lubang kemaluannya. Sementara itu tanganku bergerilya di atas susunya, kuremas-remas.
“Ah.. Ayo teruss.. shh..” rintih kakakku.
Kemudian Agnes bangkit dengan lubang kemaluannya mengarah di lisan Mbak Lia dan menggoyangkan pantatnya di kepala Kak Lia. Kakakku pun langsung menjilat-jilat lubang kemaluan Agnes dengan semangat. Suara rintihan mereka membuatku semakin nafsu. Dan langsung kuarahkan burungku ke dalam lubang kemaluan kakak.
Kaki kirinya kuangkat dan ku desak burungku untuk masuk ke lubang kemaluannya. Kugerakkan maju mundur dan kadang memutar sampai burungku lembap oleh lendir dari lubang kemaluan kakakku.
“Crp.. crep.. slokk..” suara goresan burungku dengan lembut.
“Emm.. ahh.. Terus Ro..o.”
Semakin cepat ku dorong pantat dan tiba-tiba kurasakan burungku menegang keras dan kurasakan air maniku keluar deras di dalam lubang lubang kemaluan kakakku.
“Ahh.. ahh.. uhh!” desahku.
“Uhh.. ehha..” jerit kakakku yang juga mencapai orgasme.
Selama orgasme kutekan pantatku sampai burungku paling dalam dan kugerakkan maju mundur dan memutar. Kudiamkan beberapa ketika di dalam sebab yakni burungku berkurang ketegangannya. Setelah kembali tegak kukeluarkan dan saya bangkit menuju ke Agnes yang masih mengerang keasyikan sebab yakni lubang kemaluannya masih dikulum lisan kakakku.
Dengan posisi kakakku telentang, Agnes tetap menggerakkan pantatnya di kepala Mbak Lia, saya pegang kepala Agnes dan kuarahkan mulutnya ke burungku yang masih basah. Agnes langsung mengocok burungku dengan tangannya dan mengulum kepala burungku. Aku merasakan tegangan yang tinggi ketika kugerakkan burungku maju mundur ke lisan Agnes, sampai Agnes kadang-kadang agak tersendak sebab yakni burungku masuk sangat dalam.
Begitu saya merasa mau orgasme, kupegangi kepala Agnes, kugerakkan dengan agak cepat dan tangan Agnespun mendorong pantatku ke depan.
“Creet.. creett.. cprott,” suara air maniku yang memuncrat ke dalam lisan Agnes. Aku mendesah dengan agak keras. Dan kulihat Agnes dengan susah payah berusaha menelan seluruh pejuhku semoga jangan sampai tumpah ke ranjang.
“Hukk..uhuk.” kudengar Agnes terbatuk-batuk sebab yakni kesulitan menelan pejuhku.
“Haa.haa.haa, Enak ya Mbak rasanya?” tanyaku menggoda.
“Seperti ..emm” jawabnya.
Kemudian ia memegangi burungku yang kembali melemah semoga tegak kembali sambil di kocok-kocok.
Ah..enak sekali rasanya pikirku dan saya melirik ke arah film porno yang sampai ke adegan di mana si cewek menungging dan yang cowok memasukkan burungnya dari belakang. “Eh.. Mbak ibarat itu ya posisinya?” pintaku.
“Oke deh,” jawab Agnes.
Nah sekarang giliran kamu, Nes, pikirku. Saat saya berusaha memasukkan burungku ke lubang kemaluannya lewat bawah, Mbak Lia bangkit dengan kedua kakinya di antara punggung Agnes. Aku dan Mbak Lia berciuman dengan memainkan pengecap di mulutku, kadang menjilat bibirku, sementara tanganku masih memegangi pinggang Agnes untuk mendorong burungku.
Agnes dengan gerakan maju mundurnya membuat saya keenakkan. Agnes mendesah cepat dan keringat kami bertiga semakin banyak. Kemudian kuarahkan tanganku ke buah dada Agnes yang menggantung sebab yakni posisinya yang nungging. Kuremas-remas dan kugerakkan ke banyak arah. Sementara pinggangku terus memompa semoga burungku terus keluar masuk ke lubang kemaluannya.
Ciumanku dengan Mbak Lia semakin seru dan penuh nafsu. Sesekali kuarahkan tanganku ke buah dada kakakku yang ukurannya hampir sama besarnya dengan punya Agnes. Tibalah saatnya saya orgasme ketiga kalinya. Dengan segera tanganku memegang pinggang Agnes dan kudorong pantatku dengan cepat.
“Crepp..creep..” suara selangkanganku berbenturan dengan pinggiran lubang kemaluannya.
Dan, “Crut..” air maniku memuncrat derasnya di dalam lubang kemaluan Agnes.
Kami berdua mendesah keras sebab yakni Agnes pun mencapai orgasme. Cukup lama saya merasa orgasme sehingga kutekan pantatku ke depan dan kugerakkan burungku yang ada di dalam lubang kemaluannya. Setelah beberapa ketika kukeluarkan burungku yang lembap dan Mbak Lia pun dengan spontan memegang burungku dan menjilati bekas air maniku yang bercampur dengan lendir lubang kemaluan Agnes.
Kami pun beristirahat dengan tiduran telanjang tanpa satu helai pakaian. Aku di tengah dan mereka di sampingku. Tanganku masing-masing memegang buah dada Mbak Lia dan Agnes sementara entah tangan siapa memegangi burungku yang mulai bergerak-gerak lagi.
