
Selingkuh Dengan Sahabat Suamiku Yang Gagah Perkasan
Cerita ini yaitu dongeng tentang perselingkuhanku dengan sobat suami ku yang begitu menarik hati sampai membuatku bernafsu untuk bercinta dengannya. Sebut saja nama sobat suamiku ini Herman, umurnya 31 tahun. Dia yaitu sobat sekantor suamiku yang sebaya dengannya, sedangkan saya berumur 27 tahun. Mereka sering bermain tenis bersama, entah mengapa setiap Herman datang kerumah menjemput suamiku ia selalu menyapaku dengan senyumnya yang khas, sorotan matanya yang dalam selalu memandangi diriku sedemikian rupa apalagi sewaktu saya memakai daster yang agak menerawang tatapannya seakan menembus menjelajahi seluruh tubuhku.
Aku benar benar dibuat risih oleh perlakuannya, sejujurnya saya merasakan sesuatu yang gila pada diriku, walaupun saya telah menikah 2 tahun yang kemudian dengan suamiku, saya merasakan ada suatu getaran dilubuk hatiku ditatap sedemikian rupa oleh Herman. Suatu hari suamiku pergi keluar kota selama 4 hari. Pas di hari minggu Herman datang kerumah maksud hati ingin mengajak suamiku bermain tenis, pada waktu itu saya sedang olahraga dirumah dengan memakai hot pant ketat dan kaos diatas perut.
Ketika kubuka pintu untuknya ia terpana melihat liku liku tubuhku yang seksi tercetak jelas di kaos dan celana pendekku yang serba ketat itu. Darahku berdesir merasakan tatapannya yang tajam itu. Kukatakan padanya suamiku keluar kota sejak 2 hari lalu, ia hanya diam terpaku dengan senyumannya yang khas tidak terlihat adanya kekecewaan diraut mukanya, tiba-tiba ia berkata “..Heny mau tidak gantiin suamimu, main tenis dengan saya..” Giliran saya yang terpana selama menikah belum pernah saya pergi keluar dengan laki laki selain suamiku tetapi terus jelas saya senang mendengar ajakannya, dimataku Herman merupakan figure yang cukup ‘gentleman’.
Sementara saya masih ragu-ragu datang tiba dengan yakin ia berkata “..Cepet ganti pakaian saya tunggu disini..” Entah apa yang mendorongku untuk mendapatkan ajakannya saya pribadi mengangguk sambil berlari kekamarku untuk mengganti pakaian. Dikamar Aku terdiam hatiku dagdigdug ibarat anak SMU sedang berpacaran kemudian saya melihat diriku dicermin kupilih baju baju tenisku kemudian ketemukan rok tenis putihku yang supermini kemudian kupakai dengan blous ‘you can see’ setelah itu kupakai lagi sweater, wouw.. cukup seksi juga saya ini.., setelah itu saya pakai sepatu olahragaku kemudian cepat cepat saya temui Herman didepan pintu “..Ayo Her saya sudah siap..” Herman hanya terdiam melihat pakaianku. Jakunnya terlihat naik turun.
Singkat kata saya bermain tenis dengannya dengan penuh ceria, kukejar bola yang dipukulnya, rok miniku berkibar, tanpa sungkan saya biarkan matanya menatap celana dalamku, ada perasaan gembira dan gairah setiap matanya menatap pantatku yang padat lingkaran ini.
Saking hotnya saya mengejar bola tanpa kuduga saya jatuh terkilir, Herman menghampiriku kemudian mengajakku pulang. Setiba di rumah, kuajak Herman untuk mampir dan ia menerimanya dengan senang hati. Herman memapahku sampai ke kamar, kemudian membantuku duduk di ranjang. Dengan manja kuminta ia mengambilkan saya minuman di dapur, Herman mengambilkan minuman dan kembali ke kamar mendapatkan saya telah melepas sweater dan sedang memijat betisku sendiri. Ia agak tersentak melihatku, alasannya yaitu saya telah menanggalkan sweaterku sekarang tinggal memakai blous “you can see” longgar yang membuat ketiak dan buah dadaku yang putih mulus itu mengintip nakal, posisi kakiku juga menarik rokmini olahragaku sampai pahaku yang juga putih mulus itu terbuka untuk menarik hati matanya.
Tampak sekali ia menahan diri dan mengalihkan pandangan dikala memperlihatkan minuman kepadaku. Memang “gentleman” pria ini. penampilannya agak kaku tetapi disertai sikap yang lembut, kombinasi yang tak kudapatkan dari suamiku, ditambah berbagai macam kecocokan di antara kami. Mungkin inilah yang mendorongku untuk melaksanakan sesuatu hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang perempuan yang sudah bersuami. Aku menggeser posisiku mendekatinya, kemudian kucium pipinya sebagai ucapan terimakasihku. Herman terkejut, namun tak berusaha menghindar bahkan ia menggerakan wajahnya sehingga bibirku beradu dengan bibirnya. Kewanitaanku bangun walaupun saya tahu ini yaitu salah tetapi tanpa kusadari ia mencium bibirku beberapa dikala sebelum kesudahannya saya merespon dengan hisapan lembut pada bibir bawahnya yang basah.
Kami saling menghisap bibir beberapa dikala sampai kesudahannya saya yang lebih dulu melepas ciuman hangat kami. “Her..” kataku ragu. Kami saling menatap beberapa saat. Komunikasi tanpa kata-kata kesudahannya memberijawaban dan keputusan yang sama dalam hati kami, kemudian hampir berbarengan, wajah kami sama-sama maju dan kembali saling berciuman dengan mesra dan hangat, saling menghisap bibir, kemudian lama kelamaan, entah siapa yang memulai, saya dan Herman saling menghisap pengecap dan ciuman pun semakin bertambah panas dan bergairah.
Ciuman dan hisapan berlanjut terus, sementara tangan Herman mulai beralih dari betisku, merayap ke pahaku dan membelainya dengan lembut. Darahku semakin berdesir. Mataku terpejam. Entah bagaimana pria bukan suamiku ini mampu menyentuh ragaku selembut ini, semakin kupejamkan mataku semakin melayang perasaanku, dan menikmati kelembutan yang memancing gairah ini. Kembali Herman yang melepas bibirnya dari bibirku. Namun kali ini, dengan lembut namun tegas, ia mendorong tubuhku sambil satu tangannya masih terus membelai pahaku, membuat kedua tanganku yang menahanku pada posisi duduk tak kuasa melawan dan akupun terbaring pasrah menikmati belaiannya, sementara ia sendiri membaringkan tubuhnya miring di sisiku.
Herman mengambil inisiatif mencium bibirku kembali, yang serta merta kubalas dengan hisapan pada lidahnya. Mungkin dikala itu gairahku semakin menggelegak tamat tangannya yang mulai beralih dari pahaku ke selangkanganku, membelai barang milikku yang paling sensitif yang masih terbalut celana dalam itu dengan lembut namun pasti.
“Mmhh.. Hermanu..sudah terlalu jauh Her..” desahku di sela-sela ciuman panas kami. Aku agak lega dikala tangan kekarnya meninggalkan selangkanganku, namun ia mulai menarik blousku sampai terlepas dari jepitan rokku, kemudian ia loloskan dari kepalaku. Buah dadaku yang montok dan puting susuku membayang menarik hati dari BH-ku yang tipis dan seksi, membuatnya semakin penasaran. Ia kembali mencium bibirku, namun kali ini lidahnya mulai berpindah-pindah ke telinga dan leherku, untuk kembali lagi ke bibir dan lidahku.
Permainannya yang lembut dan tak tergesa-gesa ini membuatku terpancing menjadi semakin bergairah, sampai kesudahannya ia mulai memainkan tangannya meraba-raba dadaku dan sesekali menyelipkan jarinya ke balik BH menggesek-gesek putingku yang dikala itu sudah tegak mengacung. Tanpa kusadari saya mulai memainkan kaos bajunya, dan setelah bajunya kusingkap terlihat tampilan otot di tubuhnya. Aku melihat dada bidang dan kekar, serta perut sixpacknya di depan mataku. Tak lama ia pun tetapkan untuk mengalihkan godaan bibirnya ke buah dadaku yang masih terbalut BHku.
Diciumi buah dadaku sementara tangannya merogoh ke balik punggungku untuk melepas kait BH-ku. Sama sekali tidak ada protes dariku iapun melempar BH-ku ke lantai sambil tidak buang waktu lagi mulai menjilati putingku yang memang sudah menginginkan ini dari tadi. “Ooohh.. sshh.. aachh.. Hermanu..” desahku pribadi terlontar tak tertahankan begitu lidahnya yang lembap dan kasar menggesek putingku yang terasa sangat peka.
Herman menjilati dan menghisap dada dan putingku di sela-sela desah dan rintihku yang sangat menikmati gelombang rangsangan demi rangsangan yang semakin lama semakin menggelora ini, “..Oooh Herman suuddhaah.. Herr.. stoop..!!” tetapi Herman terus saja merangsangku bahkan tangannya mulai melepas celananya, sehingga sekarang ia benar-benar telanjang bulat. Penisnya yang besar dan berotot mengacung tegang, karuan saya terbelalak melihatnya, besar dan perkasa lebih perkasa dari penis suamiku, vaginaku datang tiba berdenyut tak karuan. Oh..tak kupikirkan tamat dari keisenganku tadi yang hanya ingin mencium pipinya saja sekarang sudah berlanjut sedemikian jauh.
Herman melepas putingku kemudian bangun berlutut mengangkangi betisku. Ia menarik rokku dan membungkukkan badannya menciumi pahaku. Kembali bibirnya yang lembap dan lidahnya yang kasar menghantarkan rangsangan mahir yang merebak ke seluruh tubuhku pada setiap sentuhannya di pahaku. Apalagi ketika lidahnya menarik hati selangkanganku dengan jilatannya yang sesekali melibas pinggiran CD ku, semili lagi menyentuh bibir vaginaku. Yang mampu kulakukan hanya mendesah dan merintih pasrah melawan gejolak birahi, rasa penasaranku menginginkan lebih dari itu tapi nalar sehatku masih menyatakan bahwa ini perbuatan yang salah.
Akhirnya, dengan menyibakkan celana dalamku, Herman mengalihkan jilatannya kerambut kemaluanku yang telah begitu lembap penuh lendir birahi. “ggaahh.. Heeruu..stoop..ohh..” bagaikan terkena setrum rintihanku pribadi menyertai ledakan kenikmatan yang kurasakan dikala pengecap Herman melalap vaginaku dari bawah sampai ke atas, menyentuh klitorisku.
Kini kami sama-sama telanjang bulat. Tubuh kekar berotot Herman berlutut di depanku. Lobang vaginaku terasa panas, lembap dan berdenyut-denyut melihat batang penisnya yang tegang besar kekar berotot berbeda dengan punya suamiku yang lebih kecil. Oohh..betul betul luar biasa napsu birahiku makin mengebu gebu. Entah mengapa saya begitu terangsang melihat batang kemaluan yang bukan punya suamiku.Oooh begitu besar dan perkasa, pikiranku bimbang alasannya yaitu saya tahu sebentar lagi saya akan disetubuhi oleh sahabat suamiku, anehnya gelora napsu birahiku terus mengelegak.
Kupasrahkan diriku ketika Herman membuka kakiku sampai mengangkang lebar lebar, kemudian Herman menurunkan pantatnya dan menuntun penisnya ke bibir vaginaku. Kerongkonganku tercekat dikala kepala penis Herman menembus vaginaku.”Hngk! Besaar..sekalii..Heer..” Walau telah lembap berlendir, tak urung penisnya yang demikian besar kekar berotot begitu seret memasuki liang vaginaku yang belum pernah merasakan sebesar ini, membuatku menggigit bibir menahan kenikmatan mahir bercampur sedikit rasa sakit.
Tanpa terburu-buru, Herman kembali menjilati dan menghisap putingku yang masih mengacung dengan lembut, kadang menggodaku dengan menggesekkan giginya pada putingku, tak sampai menggigitnya, kemudian kembali menjilati dan menghisap putingku, membuatku tersihir oleh kenikmatan tiada tara, sementara setengah penisnya bergerak perlahan dan lembut menembus vaginaku. Ia menggerak-gerakkan pantatnya maju mundur dengan perlahan, memancing gairahku semakin bergelora dan lendir birahi semakin banyak meleleh di vaginaku, melicinkan jalan masuk penis berotot ini ke dalam liang kenikmatanku tahap demi tahap.
Lidahnya yang kasar dan lembap berpindah-pindah dari satu puting ke puting yang lain, membuat kepalaku terasa semakin melayang didera kenikmatan yang semakin bergairah. Akhirnya napsu birahikulah yang menang laki laki perkasa ini benar benar telah menyeretku kepusaran kenikmatan menghisap seluruh pikiran jernihku dan yang timbul yaitu rangsangan dahsyat yang membuatku ingin mengarungi permainan seks dengan sahabat suamiku ini lebih dalam.
“Ouuch.. sshh.. aachh.. teruuss.. heeruu.. masukin penismu yang dalaam..!! oouch.. niikmaat.. heerr..!! Baru kali ini lobang vaginaku merasakan ukuran dan bentuk penis yang bukan milik suamiku, yang sama sekali gres ..besaar dan perkasaa.., saya merasakan suatu rangsangan yang mahir didalam diriku. Seluruh rongga vaginaku terasa penuuh, kurasakan begitu nikmatnya dinding vaginaku digesek batang penisnya yang keras dan besaar..!
Akhirnya seluruh batang kemaluannya yang kekar besar itu tertelan kedalam lorong kenikmatanku, memberiku kenikmatan hebat, seakan bibir vaginaku dipaksa meregang, mencengkeram otot besar dan keras ini. Melepas putingku, Herman mulai memaju-mundurkan pantatnya perlahan, “..oouch.. niikmaat.. heeruu..!!” saya pun tak kuasa lagi untuk tidak merespon kenikmatan ini dengan membalas menggerakan pantatku maju-mundur dan kadang berputar menyelaraskan gerakan pantatnya, dan kesudahannya napasku semakin tersengal-sengal diselingi desah desah penuh kenikmatan.
“hh.. sshh.. hh.. Heerruu.. oohh ..suungguuhh.. niikmmaat sahyangghh..” Herman membalas dengan pertanyaan “Ohh.. Henyy nikmatan mana dengan penis suamimu..?” otakku benar benar terhipnotis oleh kenikmatan yang luar biasa..! jawabanku benar benar diluar kesadaranku “Ohh ssh Hermanu. penismu besaar sekalii..! jauh lebih nikmaat ..!! Herman makin gencar melontarkan pertanyaan gila aneh, “..hh..Heny lagi diapain memekmu sama kontolnya Herman..?” saya bingung menjawabnya, “Bilang lagi dientot..!” Herman memaksaku untuk mengulangnya, tapi dasar saya lagi terombang ambing oleh buaian birahi akupun tidak malu malu lagi mengulangnya “hh.. hh.. sshh.. mmhh..lagi dientot sayaang..”
Terus menerus kami saling memberi kenikmatan, sementara pengecap Herman kembali menari di putingku yang memang gatal memohon jilatan pengecap kasarnya. Aku benar benar menikmati permainannya sambil meremas-remas rambutnya. Rasa kesemutan berdesir dan setruman nikmat makin menjadi jadi merebak berpusat dari vagina dan putingku, keseluruh tubuhku sampai ujung jariku.
Kenikmatan menggelegak ini merayap begitu dahsyat sehingga terasa seakan tubuhku melayang. Penisnya yang dahsyat semakin cepat dan kasar menggenjot vaginaku dan menggesek-gesek dinding vaginaku yang mencengkeram erat.
Hisapan dan jilatannya pada putingku pun semakin cepat dan bernapsu. Aku begitu menikmatinya sampai kesudahannya seluruh tubuhku terasa penuh setruman birahi yang intensitasnya terus bertambah seakan tanpa henti sampai kesudahannya seluruh tubuhku bergelinjang liar tanpa mampu kukendalikan dikala kenikmatan gairah ini meledak dalam seluruh tubuhku. Desahanku sudah berganti dengan erangan erangan liar kata kataku semakin vulgar. “Ahh.. Ouchh.. entootin terus sayaang.. genjoott.. habis memekku..!! genjoott.. kontolmu sampe mentok..!!” Ooohh.. Herruu.. bukan maiin.. eennaaknyaa.. ngeentoot denganmu..!!” mendengar celotehanku, Herman yang kalem berubah menjadi semakin beringas ibarat banteng ketaton dan yang membuat saya benar benar takluk yaitu staminanya yang bukan maiin perkasaa.., tidak pernah kudapatkan ibarat ini dari suamiku.
Aku benar benar sudah lupa siapa diriku yang sudah bersuami ini, yang saya rasakan sekarang yaitu perasaan yang melambung tinggi sekali yang ingin kunikmati sepuas puasnya yang belum pernah kurasakan dengan suamiku. Herman mengombang ambingkan diriku di lautan kenikmatan yang maha luas, seakan akan tiada tepinya.
Akhirnya saya tidak mampu lagi menahan gelombang kenikmatan melanda seluruh tubuhku yang begitu dahsyatnya menggulung diriku “Ngghh.. nghh .. nghh.. Hermanu.. Akku mau keluaar..!!” pekikanku meledak menyertai gelinjang liar tubuhku sambil memeluk erat tubuhnya mencoba menahan kenikmatan dalam tubuhku, Herman mengendalikan gerakannya yang tadinya cepat dan kasar itu menjadi perlahan sambil menekan batang kemaluannya dalam dalam dengan memutar mutar keras sekalii.. Clitorisku yang sudah begitu mengeras habis digencetnya. “..aacchh.. Hermanu.. niikmaat.. tekeen.. teruuss.. itilkuu..!!”
Ledakan kenikmatan orgasmeku terasa ibarat ‘forever’ menyemburkan lendir orgasme dalam vaginaku, kupeluk tubuh Herman erat sekali wajahnya kuciumi sambil mengerang mengerang dikupingnya sementara Herman terus menggerakkan sambil menekan penisnya secara sangat perlahan, di mana setiap mili penisnya menggesek dinding vaginaku menghasilkan suatu kenikmatan yang luar biasa yang kurasakan dalam tubuhku yang tidak mampu kulontarkan dengan kata kata.
Beberapa detik kenikmatan yang terasa ibarat ‘forever’ itu kesudahannya berakhir dengan tubuhku yang terkulai lemas dengan penis Herman masih di dalam vaginaku yang masih berdenyut-denyut di luar kendaliku. Tanpa tergesa-gesa, Herman mengecup bibir, pipi dan leherku dengan lembut dan mesra, sementara kedua lengan kekarnya memeluk tubuh lemasku dengan erat, membuatku benar-benar merasa aman, terlindung dan merasa sangat disayangi. Ia sama sekali tidak menggerakkan penisnya yang masih besar dan keras di dalam vaginaku. Ia memberiku kesempatan untuk mengatur napasku yang terengah-engah.
Setelah saya kembali “sadar” dari ledakan kenikmatan titik puncak yang memabukkan tadi, saya pun mulai membalas ciumannya, memancing Herman untuk kembali memainkan lidahnya pada lidahku dan menghisap bibir dan lidahku semakin liar. Sekarang saya tidak canggung lagi bersetubuh dengan sobat suamiku ini. Gairahku yang sempat menurun tampak semakin terpancing dan saya mulai kembali menggerak-gerakkan pantatku perlahan-lahan, menggesekkan penisnya pada dinding vaginaku. Respon gerakan pantatku membuatnya semakin liar dan saya semakin berani melayani gairahnya yang memang tampaknya makin liar saja.
Genjotan penisnya pada vaginaku mulai cepat, kasar dan liar. Aku benar-benar tidak menyangka mampu terangsang lagi, biasanya setelah bersetubuh dengan suamiku setelah klimax rasanya malas sekali untuk bercumbu lagi tapi kali ini Herman memberiku pengalaman gres walau sudah mengalami klimax yang maha dahsyat tadi tapi saya mampu menikmati rangsangannya lagi oleh genjotan penisnya yang semakin bernapsu, semakin cepat, semakin kasar, sampai kesudahannya ledakan lendir birahiku menetes lagi bertubi-tubi dari dalam vaginaku.
Lalu Herman memintaku untuk berbalik, ooh ini gaya yang paling kusenangi “doggy style” dengan gaya nungging saya mampu merasakan seluruh alur alur batang kemaluan suamiku dan sekarang saya akan merasakan batang yang lebih besar lebih perkasa oohh..! dengan cepat saya berbalik sambil merangkak dan menungging kubuka kakiku lebar, kutatap mukanya sayu sambil memelas “..Yeess..Herr..masukin kontol gedemu dari belakang kelobang memekku..” Herman pun menatap liar dan yang ditatap yaitu bokongku yang sungguh seksi dimatanya, bongkahan pantatku yang lingkaran keras membelah ditengah dimana bibir vaginaku sudah begitu merekah lembap dibagian labia dalamku memerah mengkilat berlumuran lendir birahiku mengintip liang kenikmatanku yang sudah tidak sabar ingin melahap batang kemaluannya yang sungguh luar biasa itu.
Sambil memegang batang penisnya disodokannya ketempat yang dituju â€Bleess..” ..Ooohh.. Hermanu.. teruss.. Herr.. yang.. dalaam..!! mataku mendelik merasakan betapa besaar dan panjaang batang penisnya menyodok liang kenikmatanku, urat urat kemaluannya terasa sekali menggesek rongga vaginaku yang menyempit alasannya yaitu tertekuk tubuhku yang sedang menungging ini. Hambatan yang selalu kuhadapi dengan suamiku didalam gaya ‘doggy style’ ini yaitu pada waktu saya masih dalam tahap ‘menanjak’ suamiku sudah terlalu cepat keluar, suamiku hanya mampu bertahan kurang dari dua menit.
Tetapi Herman sudah lebih dari 15 menit menggarapku dengan gaya ‘doggy style’ ini tanpa ada tanda tanda mengendur. Oh bukan maiin..! bagai kesurupan saya menggeleng gelengkan kepalaku, saya benar benar dalamkeadaan ekstasi, eranganku sudah berubah menjadi pekikan pekikan kenikmatan, tubuhku kuayun ayunkan maju mundur, ketika kebelakang kusentakan keras sekali menyambut sodokannya sehingga batang penis yang besaar dan panjaang itu lenyap tertelan oleh kerakusan lobang vaginaku. kenikmatanku bukan lagi pada tahap “menanjak” tapi sudah berada di awang-awang di puncak gunung kenikmatan yang tertinggi.
“Hngk.. ngghh..Hermanu..akuu mau keluaar lagii.. aargghh..!!” saya melenguh panjang menyertai klimaksku yang kedua yang kubuat semakin nikmat dengan mendorong pantatku ke belakang keras sekali menancapkan penisnya yang besar sedalam-dalamnya di dalam vaginaku, sambil kukempot kempotkan vaginaku serasa ingin memeras batang kemaluannya untuk mendapatkan seluruh kenikmatan semaksimum mungkin.
Setelah mengejang beberapa detik diterjang gelombang kenikmatan, tubuhku melemas dipelukan Herman yang menindih tubuhku dari belakang. Berat memang tubuhnya, namun Herman menyadari itu dan segera menggulingkan dirinya, rebah di sisiku. Tubuhku yang telanjang lingkaran bermandikan keringat terbaring pasrah di ranjang, penuh dengan rasa kepuasan yang maha nikmat yang belum pernah saya rasakan sebelumnya dengan suamiku.
Herman memeluk tubuhku dan mengecup pipiku, membuatku merasa semakin nyaman dan puas. “Heny saya belum keluar sayang..! tolongin saya isepin kontolku sayaang..!” Aku benar benar terkejut saya sudah dua kali titik puncak tapi Herman belum juga keluar, bukan main perkasanya. biasanya malah suamiku lebih dulu dari saya klimaksnya kadang kadang saya malah tidak mampu titik puncak dengan suamiku alasannya yaitu suamiku suka terburu buru.
Merasa saya telah diberi kepuasan yang luar biasa darinya maka tanpa sungkan lagi kuselomot batang kemaluannya kujilat jilat buah zakarnya bahkan selangkangannya ketika kulihat Herman menggeliat geliat kenikmatan, “..Ohh yess Hen.. nikmat sekalii.. teruss hen.. lumat kontolku iseep yang daleemm.. ohh.. heestyy.. saayaangg..!!” Herman mengerang penuh semangat membuatku semakin gairah saja menyelomot batang kemaluannya yang besar, untuk makin merangsang dirinya saya merangkak dihadapannya tanpa melepaskan batang kemaluannya dari mulutku, kutunggingkan pantatku kuputar putar sambil kuhentak hentakan kebelakang, benar saja melihat gerakan erotisku Herman makin mendengus dengus bagai kuda jantan liar, dan tidak kuperkirakan yang tadinya saya hanya ingin merangsang Herman untuk mampu cepat ejakulasinya malah saya merasakan birahiku bangun lagi vaginaku terasa berdenyut denyut clitorisku mengeras lagi.
Ohh.. beginikah multiple orgasme yang banyak dibicarakan sobat temanku? Selomotanku makin beringas, batang yang besar itu yang menyumpal mulutku tak kupedulikan lagi kepalaku naik turun cepat sekali, Herman menggelinjang hebat, kesudahannya kurasakan vaginaku ingin melahap kembali batang kemaluannya yang masih perkasa ini, dengan cepat saya lepas penisnya dari mulutku pribadi saya merangkak ke atas tubuhnya kuraih batang kemaluannya kemudian kududuki sembari ku tuju ke vaginaku yang masih lapar itu. Bleess.. aachh..aku merasakan bintang bintang di langit kembali bermunculan.
“..Ooohh..Heny..kau sungguuh seksxyy.. masuukin kontolku..!!” Herman memujiku setinggi langit melihat begitu antutiasnya saya meladeninya bahkan mampu kukatakan gres pertama kali inilah saya begitu antusias, begitu beringas bagai kuda betina liar melayani kuda jantan yang sangat perkasa ini. “..Yess.. Hermanu.. yeess.. kumasukkan kontolmu yang perkasa ini..!” kuputar-putar pinggulku dengan cepatnya sekali kali kuangkat pantatku kemudian kujatuhkan dengan derass sehingga batang penis yang besar itu melesak dalaam sekali..
“..aachh.. Heestyy.. putaar.. habiisiin kontoolku.. eennakk.. sekaallii..!!” giliran Herman merintih mengerang bahkan mengejang-ngejangkan tubuhnya, tidak mampu kulukiskan betapa nikmatnya perasaanku, tubuhku terasa seringan kapas jiwaku serasa diombang ambing di dalam lautan kenikmatan yang maha luas kucurahkan seluruh tenagaku dengan memutar menggenjot bahkan menekan keras sekali pantatku, kali ini saya yang berubah menjadi ganas dan jalang, bagaikan kuda betina liar saya putar pinggulku dan bagai penari perut meliuk meliuk begitu cepat.
Batang kemaluannya kugenjot dan kupelintir habiss.. bahkan kukontraksikan otot-otot vaginaku sehingga penis yang besar itu terasa bagai dalam vacum cleaner terhisap dan terkenyot didalam liang vaginaku. Dan yang terjadi yaitu benar benar membuatku gembira sekali, Herman bagai Layang-layang putus menggelinjang habis kadang mengejangkan tubuhnya sambil meremas pantatku keras sekali, sekali-kali ingin melepaskan tubuhku darinya tapi tidak kuberikan kesempatan itu bahkan kutekan lagi pantatku lebih keras, batang penisnya melesak seluruhnya bahkan rambut kemaluannya sudah menyatu dengan rambut kemaluanku, clitorisku yang lapar akan birahi sudah mengacung keras makin merah membara tergencet batang kemaluannya. Badanku sedikit kumiringkan ke belakang, buah zakarnya kuraih dan kuremas-remas, “..Ooohh.. aachh.. yeess.. Heess.. yeess..!!”Herman membelalakan matanya sama sekali tidak menyangka saya menjadi begitu beringass..begitu liaar.. menunggangi tubuhnya, kemudian Herman bangkit, dengan posisi duduk ia menylomot buah dadaku… aachh tubuhku semakin panaas.. kubusungkan kedua buah dadaku. “..selomot.. pentilku.. dua. duanya.. Herr..yeess..!! …sshh.. …oohh..!! mataku menjadi berkunang kunang, “..Ooohh.. Henyy.. nikmatnya bukan main posisi ini..! batang kontolku melesak dalam sekali menembus memekmu..!” Herman mendengus-dengus kurasakan batang penisnya mengembung pertanda spermanya setiap dikala akan meletup, “..Ohh.. sshh..aahh.. Hermanu ..keluaar.. bareeng..sayaannghh..!! jiwaku terasa berputar putar..! “..yess..Henn..aku keluarkan diluar apa didalam..?”. “..Ohh.. Herman kontoolmu.. jaangaan..dicabuut..keluarin.. didalaam..!!
Tiba datang bagaikan disetrum jutaan volt kenikmatan tubuhku bergetar mahir sekalii..! dan tubuhku mengejang ketika kurasakan semburan dahsyat di dalam rahimku, “..aachh. jepiit kontoolku.. yeess.. sshh.. oohh.. nikmaatnya.. memekmu Henyy..!!” Herman memuncratkan air maninya di dalam rongga vaginaku, terasa kental dan banyak sekali. Akupun mengelinjang mahir sampai lupa daratan “..Nggkkh.. sshh.. uugghh.. Heerru.. teekeen kontoolmu.. sampe mentookkhh.. sayaahng.. aarrgghh..!! gelombang demi gelombang kenikmatan menggulung jiwaku, ooh benar benar tak kusangka makin sering titik puncak makin luar biaasaa rasa nikmatnya jiwaku serasa terbetot keluar terombang ambing dalam lautan kenikmatan yang maha luas. Kutekan kujepit kekepit seluruh tubuhnya mulai batang penisnya pantatnya pinggangnya bahkan dadanya yang kekar kupeluk erat sekali.
Seluruh tetes air maninya kuperas dari batang kemaluannya yang sedang terjepit menyatu di dalam liang vaginaku. aarrgghh.. Nikmatnya sungguh luar biaasaa!! Oohh Herman saya kuatir akan ketagihan dengan batang penismu yang maha dahsyat ini!! Akhirnya perlahan lahan kesadaranku pulih kembali, titik puncak yang ketiga ini membuat tubuhku terasa lemas sekali, Herman sadar akan keterbatasan tenagaku, kesudahannya ia membaringkan tubuhku di dadanya yang kekar, saya merasakan kenyamanan yang luar biasa, kepuasanku terasa sangat dihargainya. Tiga kali titik puncak bukanlah hal yang simpel bagiku untuk mendapatkannya didalam satu kali permainan seks.
Herman telah menaklukan diriku luaar.. dalaam..!! akan kukenang bencana ini selama hidupku. Tiba datang Herman melihat jam kemudian dengan muka sedih ia memberikan kepadaku bahwa ia harus menemui seseorang 10 menit lagi, akupun tak kuasa menahannya, saya hanya mengangguk tak berdaya.
Sepeninggal Herman dari rumah, saya termenung sendirian di ranjang. Suatu bencana yang sama sekali tak terpikir olehku mulai merebak dalam kesadaranku. Aku telah menikmati perbuatan seks dengan sahabat suamiku bahkan harus kuakui, saya betul betul menikmati kedahsyatan permainan seks dengan sahabat suamiku itu. Tetapi saya telah mengkhianati suamiku. Aku mulai merasakan sesuatu yang salah, sementara di lain pihak, saya sangat menikmatinya dan sangat mengharapkan Herman melakukannya lagi terhadapku.
Hati dan nalar sehat terpecah dan menyeretku ke dua arah yang berlawanan. Pergumulan batin terjadi membuatku limbung. Akhirnya kuputuskan untuk mencoba melupakan Herman. Setelah beberapa minggu dalam kondisi ibarat ini, hatiku makin tidak menentu, makin kucoba melupakannya makin terbayang seluruh bencana hari itu, saya masih merasakan tubuhnya yang kekar berkeringat napasnya yang mendengus dengus terngiang sayup sayup terdengar suaranya memanggilku ‘sayang’. Herman berhenti bertugas di kantor suamiku. Entah itu keinginannya sendiri atau memang ia dialih tugaskan, saya tidak tahu.
Namun sampai kini, pergumulan batin dalam diriku masih terus berlangsung. Di lain pihak saya tetap ingin mencintai suamiku, walaupun ia tak mampu memperlihatkan apa yang telah diberikan Herman padaku. Aku masih merindukan dan menginginkan sentuhan hangat tangan kekar Herman. Tamat
Itulah Dewasa Menarik Dari Kami, Semoga terhibur!
