Cerita Dewasa Kisah ini terjadi kira-kira 2 tahun yang lalu, tapi setiap kali saya membayangkannya, seperti baru saja terjadi kemarin tragedi yang sangat indah ini.
Aku mempunyai seorang paman yang belum menikah. Pamanku ini mampu dibilang banyak istri. Hal ini disebabkan karena pamanku adalah pengusaha kaya tapi ia terlalu banya mulut dalam memilih pendamping hidupnya. Sebenarnya ia telah banyak diperkenalkan dgn wanita-wanita muda oleh keluargaku, tetapi tetap ia bilang inilah itulah, semuanya cocok dgn matanya, katanya.
Sampai pada suatu saat, ketika saya kebetulan sedang bertamu ke rumahnya, datang istri pamanku dgn seorang perempuan yang sangat anggun dan Seksi, semampai, langsing, pokoknya kalau menurut saya, layak dikirim untuk jadi calon miss universe.
Kemudian kami diperkenalkan dgnnya, perempuan itu bernama Dina, ternyata namanya pas sekali dgn wajahnya yang memang Dina itu. Ia berusia 24 tahun dan dikala itu ia bekerja sebagai sekretaris di perusahaan sahabat pamanku itu. Kemudian kami bercakap-cakap, ternyata Dina memang yummy untuk diajak ngobrol. Dan saya melihat sepertinya pamanku tertarik sekali dgnnya, karena saya tahu matanya tidak pernah lepas memandang wajah Dina.
Dina diam saja, demikian juga aku, sementara itu film semakin bertambah panas, tapi Dina tidak melepaskan genggamannya. Lalu secara tidak sadar otak pornoku mulai bekerja, soalnya kupikir sekarang kan tidak ada orang lain ini. Lalu mulai kuusap-usap tangannya, kemudian ia menoleh padaku, kutatap matanya dalam-dalam, sambil berkata dgn pelan, “Dina, gua cinta elu.”
Ia tidak menjawab, tapi memejamkan matanya. Kupikir ini saatnya, kemudian pelan-pelan kukecup bibirnya sambil lidahku menerobos bertemu lidahnya. Dina pun kemudian membalasnya sambil memelukku erat-erat. Tanganku tidak tinggal diam berusaha untuk meraba-raba buah dadanya, ternyata agak besar juga, walaupun tidak sebesar punyanya bintang film porno. Dina menggeliat mirip cacing kepanasan, mendesah-desah menikmati rangsangan yang diterima pada buah dadanya.
Kemudian saya berusaha membuka satu persatu kancing bajunya, kemudian kuremas-remas pDinadara yang masih terbungkus BRA itu.
“Aaahh, buka aja BH-nya Tonn, cepat.., oohh..!”
Kucari-cari pengaitnya di belakang, kemudian kubuka. Wah, ternyata lumayan juga, masih padat dan kencang, walaupun tidak begitu besar. Langsung kusedot-sedot putingnya mirip anak bayi kehausan.
“Esshh.. ouwww.. aduhh.. Tonn.. nikmat sekali lidahmu.., teruss..!”
Setelah bosan dgn pDinadaranya, kemudian kubuka seluruh pakaiannya hingga bugil total. Ia juga tidak mau kalah, kemudian melepaskan semua yang kukenakan. Untuk sesaat kami saling berpandangan mengagumi keindahan masing-masing. Lalu ia menarik tanganku menuju ke kamarnya, tapi saya melepaskan pegangannya kemudian menggendongnya dgn kedua tanganku.
“Aouww Tonn, kamu romantis sekali..!” katanya sambil kedua tangannya menggelDinat manja melingkari leherku.
Kemudian kuletakkan Dina pelan-pelan di atas ranjangnya, kemudian saya menindih tubuhnya dari atas, untuk sesaat verbal kami saling pagut memagut dgn mesranya sambil berpelukan erat. Lalu mulutku mulai turun ke buah dadanya, kujilat-jilat dgn lembut, Dina mendesah-desah nikmat. Tidak lama saya bermain di dadanya, mulutku pelan-pelan mulai menjilati turun ke perutnya, Dina menggeliat kegelian.
“Aduh Tonn, elu ngerjain gua yah, awas elu nanti..!”
“Tapi elu suka khan? Geli-geli nikmat..!”
“Udah ah, jilati aja memek gua Tonn..!”
“Oke boss.., siap laksanakan perintah..!”
Langsung saja kubuka paha lebar-lebar, tanpa menunggu lagi eksklusif saja kujilat-jilat klitorisnya yang sebesar kacang kedele. Dina menggoyang-goyangkan pinggulnya dgn liar seperti tidak mau kalah dgn permainan lidahku ini.
“Oohh esshh aaouuw uuhh teeruss.., lebih dalemm, oohh.. nikmat sekali..!”
Agak lama juga saya bermain di klitorisnya sampai-sampai terlihat banjir di sekitar vaginanya.
“Tonn, masukkin aja titit elu ke lobang gua, gua udah enggak tahan lagi..!”
dgn segera kuposisikan diriku untuk menembus kemaluannya, tapi ketika kutekan ujung penisku, ternyata tidak mau masuk. Aku baru tahu ternyata ia masih perawan.
“Dina, apa elu tidak menyesal perawan elu gua tembus..?”
“Tonn, gua rela kalau elu yang ngambil perawan gua, bagi gua di dunia ini cuma ada kita berdua aja.”
Tanpa ragu-ragu lagi eksklusif kutusuk penisku dgn kuat, rasanya mirip ada sesuatu yang robek, mungkin itu perawannya, pikirku.
“Aduh sakit Tonn, tahan dulu..!” katanya menahan sakit.
Aku pun diam sejenak, kemudian kucium mulutnya untuk meredakan rasa sakitnya. Beberapa menit kemudian ia terangsang lagi, kemudian tanpa buang waktu lagi kutekan pantatku sehingga batang kemaluanku masuk semuanya ke dalam lubangnya.
“Pelan-pelan Tonn, masih sakit nih..!” katanya meringis.
Kugoyangkan pinggulku pelan-pelan, lama kelamaan kulihat ia mulai terangsang lagi. Lalu gerakanku mulai kupercepat sambil menyedot-nyedot puting susunya. Kulihat Dina sangat menikmati sekali permainan ini.
Tidak lama kemudian ia mengejang, “Tonn, aa.. akuu.. mau keluarr.., teruss.. terus.., aahh..!”
Aku pun mulai merasakan hal yang sama, “Yu, saya juga mau keluar, di dalam atau di luar..?”
“Keluarin di dalem aja Sayang.. ohh.. aahh..!” katanya sambil kedua pahanya mulai dijepitkan pada pinggangku dan terus menggoyangkan pantatnya.
Tiba-tiba ia menjerit histeris, “Oohh.. sshh.. sshh.. sshh..”
Ternyata ia sudah keluar, saya terus menggenjot pantatku semakin cepat dan keras hingga menyentuh ke dasar liang senggamanya.
“Sshh.. aahh..” dan, “Aagghh.. crett.. crett.. creet..!”
Kutekan pantatku hingga batang kejantananku menempel ke dasar liang kenikmatannya, dan keluarlah spermaku ke dalam liang surganya. Cerita Dewasa Sedarah Istri Paman
Saat terakhir air maniku keluar, saya pun merasa lemas. Walaupun dalam keadaan lemas, tidak kucabut batang kemaluanku dari liangnya, melainkan menaikkan lagi kedua pahanya hingga dgn terperinci saya mampu melihat bagaimana rudalku masuk ke dalam sarangnya yang dikelilingi oleh bulu kemaluannya yang menggoda. Kubelai bulu-bulu itu sambil sesekali menyentuh klitorisnya.
“Sshh.. aahh..!” hanya desisan saja yang menjadi jawaban atas perlakuanku itu.
Setelah itu kami berdua sama-sama lemas. Kami saling berpelukan selama kira-kira satu jam sambil meraba-raba.
Lalu ia berkata kepadaku, “Tonn, mudah-mudahan kita mampu bersatu mirip ini Tonn, gua sangat sayang pada elu.”
Aku diam sejenak, kemudian kubilang begini, “Gua juga sayang elu, tapi elu mesti janji dihentikan meladeni paman gua kalo ia nyari-nyari elu.”
“Oke boss, siap laksanakan perintah..!” katanya sambil memelukku lebih erat.
Sejak dikala itu, kami menjadi sangat lengket, tiap malam minggu selalu kami bertingkah mirip suami istri. Tidak hanya di apartmentnya, kadang saya datang ke tempat kerjanya dan melakukannya bersama di WC, tentu saja setelah semua orang sudah pulang. Kadang ia juga ke tempat kerjaku untuk minta jatahnya. Katanya pamanku sudah tidak pernah mencarinya lagi, soalnya tiap kali Dina ditelpon, yang menjawabnya adalah mesin penjawabnya, kemudian tak pernah dibalas Dina, mungkin balasannya pamanku jadi bosan sendiri.
Aku dan ia sering jalan-jalan ke Mal-Mal, untungnya tidak pernah bertemu dgn pamanku itu. Sampai dikala ini saya masih jalan bersama, tapi ketika kutanya hingga kapan mau begini, ia tidak menjawabnya. Aku ingin sekali menikahinya, tapi sepertinya ia bukan tipe cewek yang ingin punya keluarga. Tapi lama-lama kupikir, tidak apalah, yang penting saya mampu enaknya juga.

