![]() |
Pada ketika saya masih dlm keadaan telungkup, saya lihat pintu kendaraan beroda empat polisi itu terbuka. Tp anehnya, saya sepertinya kok melihat kaki seorang wanita. Kakinya yg putih bersih dan indah itu kini berada tepat di wajahku, kutegakkan kepalaku. Betapa terkejutnya aku, mataku mirip melihat “hutan belantara” di antara kedua kaki yg jenjang itu. Setelah kuperhatikan baik-baik, ternyata ia seorang polwan, dan di dada kirinya tertulis namanya, ANA. Dia anggun sekali dan ohh.., body-nya mantap sekali. Aku jadi bengong, dan, “Plaaakkk..!” sebuah tamparan mendarat di pipi kananku.
“Heiii, apa yg Kamu lihat..? Ayo kini serahkan surat-suratmu mu cepaattt..!” bentaknya.
Aku jadi kaget dan segera kuambil dompet dari saku celanaku, kemudian kuambil SIM dan STNK, kemudian kuserahkan padanya. Sementara ia melihat suratku, saya pandangi lagi ia ohh.., betapa anggun polwan ini.
Aku perkirakan umurnya paling masih sekitar 25 tahun. Samar-samar di dlm kendaraan beroda empat ada polisi cewek satu lagi, ia seumur denganya tetapi pangkatnya lebih rendah, bila tdk salah sersan dua. Kakinya putih tetapi tdk semulus polwan yg tadi. Lalu tanpa kusadari, Letnan Ana mengambil sesuatu dari dlm mobil, ia berjalan menuju hidung mobil, kemudian ia membungkukkan badannya untuk menulis sesuatu. Pada posisi nungging, saya lihat lagi body-nya yg waaaooowwww selangit deh… Tanpa kusadari, “tititku” mengeras perlahan. Setelah itu ia tegakkan badannya, terus berkata,
“Eee.. saudara Indra, Anda Kami tilang lantaran Anda tdk memakai helm. Sidang akan dilaksanakan besok lusa. Jangan lupa Anda harus hadir di persidangan besok. Oke..?”
“Tp Bu, besok Sy tdk bisa hadir, soalnya pada hari itu Sy harus mengantar pacar yg akan diwisuda. Jadi Sy minta tolong sama Ibu, bagaimana dech baiknya semoga masalah ini selesai..?” Lalu ia bilang,
“Do you have some money..?”
“Aduh, maaf sekali Bu, Sy sama sekali tdk membawa uang sepeser pun.” jawabku.
“Baiklah, bila begitu SIM-mu Aku tahan dulu, tp nanti malam Kamu harus pergi ke rumah Sy. Dan ingat..! Kamu harus datang sendiri. Oke..? Ini alamatku. Jangan lupa lho, Aku tunggu jam 7 malam.” Dia pergi sambil mengerdipkan matanya kepadaku.
Aku terkejut, tetapi juga seneng banget, pokoknya seneng dech. Aku sampai di rumahnya sekitar jam 7 dan langsung mengetuk pintu pagarnya yg sudah terkunci. Tak lama kemudian, Ibu Ana muncul dari dlm dan sudah tahu saya akan datang malam itu.
“Ayo Ndra.., masuk. Aku sudah lama nunggu lho, sampai berair pantatku duduk terus dari tadi..” sapanya.
“Aaahhhh.. Ibu bisa aja…” jawabku.
“Maaf.., pintunya sudah digembok, soalnya Aku tinggal sendiri, jadi harus hati-hati.” sambutnya.
“Oh.., jadi Ibu belum menikah too..? Sayang lho..! Wanita secantik Ibu ini belum menikah..” kataku merayu.
“Aaaa.. Kamu ngerayu ya..?” tanyanya.
“Enggak kok Bu, Sy berkata begitu lantaran memang kenyataannya begitu. Coba Ibu pikir, Ibu sudah mapan hidupnya, anggun luar-dlm, dan sebagainya dech…” jelasku.
“Ehh.. Aku anggun luar-dalam, apa maksud Kamu..?” tanyanya lagi.
“Haduuhh.., gimana ya, malu Aku jadinya..?” jawabku.
“Kamu nggak perlu malu-malu mengatakannya, Kamu ingin SIM Kamu kembali nggak..?” ancamnya.
”Eee.. kini gini aja, Kamu udah punya pacar khan..? Sekarang Sy tanya, kenapa Kamu memilih ia jadi pacar Kamu..?” tanyanya lagi.
“Eee.. jujur aja Bu, ia itu orangnya cantik, baik, setia dan cinta sama Sy, that?s all..”
“Kalau seumpama Kamu disuruh milih antara Sy dan pacar Kamu, Kamu pilih Sy atau pacar Kamu sekarang..? Bandingkan aja dari segi fisik, Oke.. Sy atau Dia..?” tanyanya memojokkanku.
“Eeee… Anu.. anu… eee..,” saya dibuat bingung tdk karuan.
“Ayo.. jawab aja..! Kalau Kamu tdk jawab, SIM Kamu tdk kukembalikan lho..!” ancamnya lagi.
“Waduhhh.., gimana ya..? Ehmmm.., baiklah, Sy akan jawab sejujurnya. Sy tetap akan memilih pacar Sy sekarang.” jawabku.
“Wow.., bila begitu ia lebih anggun dan semok dong dari Sy..?” jawabnya lirih.
“Eeee.. bukan begitu Bu, Sy memilih pacar Sy walaupun Dia sesungguhnya kalah anggun dari Ibu, dan segalanya dech..!” jawabku.
“Ahh… yg benar, jadi Aku lebih anggun dan semok dari Dia..?” tanyanya lagi.
“Jujur saja.., ya.. ya.. ya..” jawabku mantap.
“Ohhh..,Aku jadi tersanjung dan terpikat dgn jawabanmu tadi..,” katanya girang,
“Wah.. jadi lupa Aku, Kamu nonton TV aja dulu di ruang tengah, Aku mau ambil SIM Kamu di kamar.., Oke..?” pintanya.
Lalu saya menuju ke ruang tengah, kuputar TV. Secara tdk sengaja, saya melihat tumpukan VCD. Aku tertarik, kemudian kulihat tumpukan VCD itu, lalu, ohhh astaga, ternyata tumpukan VCD itu semuanya film “XXX”, saya terkejut sekali melihat tumpukan film “XXX” itu. Sebelum saya melihat satu-persatu, terdengar suara pintu dibuka. Lalu, ohhh, saya terkejut lagi, Ibu Ana keluar dari kamarnya hanya menggenakan daster pink transparan, di balik dasternya itu, bentuk buah dadanya terlihat jelas, terlebih lagi putting susunya yg menyembul bak gunung Semeru. Begitu ia keluar, mataku nyaris copot lantaran melotot, melihat tubuh Ibu Ana. Dia membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas.
“Kenapa..? Ayo duduk dulu..! Ini SIM Kamu.. Aku kembalikan..” katanya.
Wajahku memerah lantaran malu, lantaran Ibu Ana tersenyum ketika pandanganku terarah ke buah dadanya.
“SIM Kamu, Aku kembalikan, tp Kamu harus menolong Sy..!” Ibu Ana merapatkan duduknya di karpet ke tubuhku, saya jadi panas hambar dibuatnya.
“Ndraa..?” tegurnya ditengah-tengah keheninganku.
“Ada apa Bu..?” tubuhku bergetar ketika tangan Ibu Ana merangkulku, sementara tangannya yg lain mengusap-usap daerah “XXX”-ku.
“Tolong Ibu Ana ya..? Dan janji, Kamu harus kesepakatan untuk merahasiakan hal ini, bila tdk saya DOR Kamu..!” pintanya manja.
“Tp… Sy.., anu.., eee..”
“Kenapa..? Ooooo.. Kamu takut sama pacar Kamu ya..?” katanya manja.
Wajahku langsung saja merah mendengar perkataan Ibu Ana,
“Iya Bu…” kataku lagi.
“Sekarang Kamu pilih disidang atau pacar Kamu..?” ancamnya.
Dia kemudian duduk di pangkuanku. Bibir kami berdua kemudian saling berpagutan. Ibu Ana yg agresif lantaran haus akan kehangatan dan saya yg menurut saja, langsung bereaksi ketika tubuh hangat Ibu Ana menekan ke dadaku. Aku bisa mencicipi puting susu Ibu Ana yg mengeras. Lidah Ibu Ana menjelajahi mulutku, mencari lidahku untuk kemudian saling berpagutan bagai ular. Setelah puas, Ibu Ana kemudian berdiri di depanku yg dari tadi masih melongo, lantaran tdk percaya pada apa yg sedang terjadi. Satu demi satu pakaiannya berjatuhan ke lantai. Tubuhnya yg polos tanpa sehelai bnenangpun seakan akan menantang untuk diberi kehangatan olehku.
“Lepaskan pakaiannmu Ndraaa..!”
Ibu Ana berkata sambil merebahkan dirinya di karpet. Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindihi tubuhnya.
“Ayooo.. cepat dong..! Aku udah nggak tahan nich.. ohhh..” Ibu Ana mendesah tdk sabar.
Aku kemudian berlutut di sampingnya. Aku bingung dan tdk tahu apa yg harus dilakukan, lantaran malu.
“Ndraaaa.. letakkan tanganmu di dadaku, ayo ohhh..!” pintanya lagi.
Dgn gemetar saya meletakkan tanganku di dada Ibu Ana yg turun naik. Tanganku kemudian dibimbing untuk meremas-remas buah dada Ibu Ana yg super bahenol itu.
“Oohhh… enakk.., ohhh… remas pelan- pelan, rasakan putingnya menegang..” desahnya.
Dgn semangat saya melakukan apa yg ia katakan. Lama-lama saya jadi tdk tahan, lalu,
“Ibu.. boleh Sy hisap susu Ibu..?” Ibu Ana tersenyum mendengar pertanyaanku, ia berkata sambil menunduk,
“Boleh Sayang… lakukan apa yg Kamu suka..” Tubuh Ana menegang ketika mencicipi jilatan dan hisapan mulutku yg kini mulai garang itu di susunya.
“Oohhh… jilat terus Ndraaaa..! Ohhh…” desah Ibu Ana sambil tangannya mendekap erat kepalaku ke buah dadanya.
Aku lama-lama semakin buas menjilati puting buah dadanya, mulutnya tanpa kusadari mengakibatkan suara yg nyaring. Hisapanku semakin keras, bahkan tanpa kusadari, saya menggigit-gigit ringan putingnya yg ohhh.
“Emmm… nakal Kamu…” Ibu Ana tersenyum mencicipi tingkahku yg semakin “Jozzz” itu. Lalu saya duduk di antara kedua kaki Ibu Ana yg telah terbuka lebar, sepertinya sudah siap tempur.
Ibu Ana kemudian menyandarkan punggungnya pada dinding di belakangya.
“Ayo, kini Kamu rasakan meqi ku..!” ia membimbing telunjukku memasuki liang senggamanya.
“Hangat, lembab, sempit sekali Bu…” kataku sambil mengucek kedalaman lubang kemaluanya.
“Sekarang jilat ‘k0ntol kecil’-ku..!” katanya.
Perlahan-lahan lidahku mulai menjilat klitoris yg mulai menyembul tinggi sekali itu.
“Terus.. ooohhh.. ya.. jilat.. jilat. Terus.. ohhh…” Ibu Ana menggerinjal-gerinjal keenakan ketika klitorisnya dijilat oleh mulutku yg mulai asyik dgn tugasnya.
“Gimana.., enak ya Bu..?” saya tersenyum sambil terus menjilat.
“Oohh.. Ndraaaa…” tubuh Ibu Ana telah berair oleh peluh, pikirannya serasa di awang-awang, sementara bibirnya merintih-rintih keenakan.
Cerita Hot - Lidahku semakin berani mempermainkan klitoris Ibu Ana yg makin bergelora dirangsang birahi. Nafasnya yg semakin memburu menerangkan pertahanannya akan segera jebol. Dan saya akan unggul 1-0, ee… emangnya main bola. Lalu,
“Oooaaahhh… Ndraaaa..!” Tangan Ibu Ana mencengkeram pundakku yg kokoh bagaikan tembok raksasa di China, sementara tubuhnya menegang dan otot- otot kewanitaannya mulai menegang, dan muncratlah ‘lahar’Ibu Ana di mulutku.
Matanya terpejam sesaat, menikmati kenikmatan yg telah kuberikan.
Hmmm… Kamu sungguh lihai Ndraaaa… Sekarang coba gantian Kamu yg berbaring…” katanya. Aku menurut saja. Batang kejantananku segera menegang ketika mencicipi tangan lembut Ibu Ana yg mulai mempermainkan senjata keperkasaanku.
“Wah.. wahh… besar sekali. Oh my god… Ohhh…” tangan Ibu Ana segera mengusap-usap batang keperkasaanku yg telah mengeras tersebut.
Segera saja benda besar dan panjang itu mulai berdenyut-denyut dan dimasukkan ke lisan Ibu Ana. Dia segera menjilati batang kemaluanku itu dgn penuh semangat. Kepala kejantananku itu dihisapnya keras-keras sampai saya jadi merintih keenakan.
“Ahhh… enakkeee.. rekkk..!” saya tanpa sadar menyodokkan pinggulku untuk semakin menekan senjata keperkasaanku semoga makin ke dlm lisan Ibu Ana yg telah penuh oleh batang kejantananku.
Gerakanku makin cepat seiring semakin kerasnya hisapan Ibu Ana.
“Ooohhh Bu.. oohhh.. lisan Ibu memang sakti.. ohhh.. I?m coming… ohhh…” Muncratlah laharku di dlm lisan Ibu Ana yg segera menjilati cairan itu sampai tuntas.. tas.. tas.. plass.
“Hmmmm… agak asin rasanya Ndra punyamu.., tp enak kok…” Ibu Ana masih tetap menjilati kemaluanku yg masih tegak bagaikan tugu Monas di Jakarta, menara Piza di Italy, menara Eiffel di Paris.
“Sebentar ya.., Aku mau minum dulu..” katanya sesudah simpulan menjilati batang kejantananku.
Ketika Ibu Ana sedang membelakangiku sambil menenggak air putih dari kulkas. Aku melihat body yg wuih dan itu ohhh, pantat yg bulat. Aku memang suka pantat yg bulat dan menantang. Aku tdk tahan cuma melihat dari jauh, kemudian saya berdiri dan berjalan menghampirinya, kemudian mendekapnya dari belakang.
“Ndraaaa.. jangan nakal dong, biar Ibu minum dulu..!” katanya manja.
“Aku tdk tahan melihat pantat ibu yg menantang itu.” kataku tak sabaran.
“Kamu suka pantatku, bila gitu Kamu tentu mau bila nanti pantatku mendapatkan giliran untuk Kamu obok-obok, bagaimana Ndra..? Mau ngobok- ngobok pantat Ibu..?” tanyanya. Aku terima tantangannya.
“Ohhh.., memang benar- benar mantaapppp…” saya berkata sambil mengelus-elus pantat Ibu Ana.
Lalu saya jongkok semoga sanggup terperinci melihat, kusentuh lembut pantat itu dgn tanganku. Terus kucium, kuelus lagi, kucium lagi terus kujilat, kemudian kubuka belahan pantat itu. Ohhh.., terhampar pemandangan indah dgn bau yg khas, lubang yg sempit, lebih sempit dari yg di depan dan sekitarnya ditumbuhi bulu-bulu yg lumayan lebat. Lalu kujulurkan jari telunjukku ke lubang yg sempit itu.
Waktu saya coba memasukkan jariku ke lubang itu, terdengar jeritan kecil Ibu Ana.
“Ndra.., jangan keras-keras ya, nanti sakit.. lho…” Lalu saya mulai memasukkan step by step.
Waktu jariku menembus lubang itu sepertinya tanganku mau disedot masuk ke dlm.
“Lubang Ibu nakal juga ya, masa jariku mau dimakan juga..?”
“Akhhh… Kamu nakal dech.., ohhh Ndra.. coba kini Kamu jilat ya..?” pintanya.
Lalu kutarik jariku dari dlm lubang itu, kemudian saya mulai menjilati lubang itu ehhmm.., lumayan juga rasanya, asin-asin gurih. Sementara itu, Ibu Ana terdengar merintih keenakan. Lama-lama saya tdk sabar, dan terus kuberdiri dan tanpa basa-basi, saya langsung membalikkan badannya. Terus kulahap gundukan-gundukan daging di dada Ibu Ana dgn nikmat. Sementara itu, Ibu Ana mulai mendesah-desah dan menggelinjang. Kepalanya mendongak ke atas dan matanya terpejam. Goyangan- goyangan lidahku yg terus menjilati puting susu Ibu Ana yg tinggi dan lancip begitu bertubi-tubi tanpa henti. Ibu Ana menggerinjal-gerinjal dgn keras.
“Aaaaggghhhh… oooohhh… ooooohhh…” desahan- desahan kenikmatan semakin banyak bermunculan dari lisan Ibu Ana.
Geliat- geliatan tubuhnya semakin menjadi-jadi lantaran merasa sensasi yg luar biasa tanggapan sentuhan-sentuhan lisan dan lidahku pada ujung syaraf sensitif di buah dadanya. Urat-urat membiru pun mulai menghiasi dgn terperinci seluruh permukaan buah dada yg super bahenol itu. Masih dgn mulutku yg tetap berpetualang di dada Ibu Ana yg juga masih menggelinjang, saya membopong Ibu Ana ke kamar. Kujatuhkan tubuh Ibu Ana di atas kasur spring bed yg sangat empuk.
Saking keras jatuhnya, tubuhnya yg aduhai itu sempat terlontar-lontar sedikit sebelum kesudahannya tergolek pasrah di atas ranjang itu. Setelah itu, Ibu Ana tetelentang di kasur dgn kaki-kakinya yg jenjang terjulur ke lantai. Tubuh bugilnya yg putih dan mulus beserta buah dada yg bahenol dgn puting susu nan tinggi yg teronggok kokoh di dadanya, memang sebuah pemandangan yg amat menawan hati. Lalu saya berlutut di lantai menghadap selangkangan Ibu Ana. Kurenggangkan kedua kakinya yg menjejak di lantai.
Dgn begitu saya sanggup memandang langsung ke arah selangkangannya itu. Bulu-bulu kemaluan yg tumbuh di padang rumput tipis yg menghiasi wilayah sensitif itu begitu menggelora nafsu birahiku. Aromanya yg segar dan harum membuat nafsuku itu kian meninggi. Kudekatkan mulutku ke bibir meqinya dan kujulurkan lidahku untuk mencicipi lezatnya lubang itu. Tubuh Ibu Ana terlonjak keras ketika kucucukkan lidahku ke dlm liang senggamanya. Kukorek-korek seluruh permukaan lorong yg gelap itu. Begitu mahir rangsangan yg kubuat pada dinding lorong kenikmatan tersebut, membuat air bah segera datang membanjirinya.
“Aaaagghhhhhh… oooooohhh… aaahhh…” terdengar rintihan Ibu Ana dari mulutnya yg megap-megap setengah membuka.
Kemudian saya berdiri. Dgn tangan bertumpu ke atas kasur, kucoba mengarahkan ujung K0ntolku ke lubang meqi yg lumayan sempit yg tampak licin dan berair milik Ibu Ana. Berhasil. Perlahan-lahan kuhujamkan batang kemaluanku ke dlm liang senggama itu. Tubuh Ibu Ana berkejat- kejat dibuatnya mencicipi nikmat penetrasi yg sedang kulakukan ketika ini.
“Oooohhhh… uuuuccchhh…” tak ayal jeritan- jeritan mengalir dari mulutnya.
Akhirnya batang keperkasaanku amblas semua ke dlm liang gelap yg berdenyut-denyut milik Ibu Ana diiringi dgn jeritannya. Kenikmatan ini kian bertambah menjadi- jadi sesudah saya melakukan penetrasi lebih dlm dan intensif lagi. Gerakan memompa dari batang kejantananku di dlm kemaluan Ibu Ana semakin kupercepat.
Terdengar suara kecipak-kecipak dan lenguhan kami berdua lantaran terlalu asyiknya kami bersenggama. Seiring dgn tangan yg kembali meremas- remas perbukitan indah yg menjulang tinggi di dada Ibu Ana, batang kejantananku terus melakukan serangan- serangan yg tanpa henti di dlm lubang senggamanya yg bertambah kencang denyutan-denyutannya. Meqi memerah yg terus berdenyut-denyut dan amat licin tanggapan begitu membanjirnya cairan- cairan kenikmatan yg keluar dari dalamnya, terasa menjepit bnatang kejantananku.
Demikian sempitnya ruang gerak K0ntolku di dlm lorong gelap itu, menimbulkan gesekan-gesekan yg terjadi begitu mengasyikkan. Ini merupakan sensasi sendiri bagiku yg mencicipi batang keperkasaanku mirip merasa diurut-urut oleh seluruh permukaan dinding meqinya. Mulutku pun tak henti-hentinya menyuarakan desahan-desahan kenikmatan tanpa bisa dihalangi lagi.
“Oouuugghhhhh… Ndraaaa… mmmpphhhh…” Ibu Ana mengerang-ngerang tdk karuan, sementara tubuhnya juga melonjak-lonjak dgn keras.
Sekuat tenaga kuhujam-hujam K0ntolku dgn lebih ganas lagi ke dlm liang senggamanya. Rasanya hampir habis tenaga dan nafasku dibuatnya. Tetapi nafsu birahi yg begitu menggelora sepertinya membuatku lupa pada kelelahanku itu. Ini dibuktikan dgn sodokan kejantananku yg berusaha menusuk sedalam-dalamnya. Bahkan berkali-kali ujung batang kejantananku sampai menyentuh pangkal liang tersebut, membuat Ibu Ana menjerit keenakan.
“Ndraaaa… Ndraaaa… Aku… mau… keluar…” Ibu Ana melenguh kencang.
Ia mencicipi sudah tdk bisa menahan klimaksnya lagi. Akan tetapi, saya belum mencicipi titik puncak sedikit pun. Langsung kutambah kecepatan genjotan-genjotan batang kejantananku di dlm liang senggamanya. Begitu buasnya sodokan-sodokanku itu, membuat tubuh Ibu Ana bergoyang-goyang hebat, ia merintih… merintih… dan merintih.
Akhirnya ketika yg diharapkan itu tercapai. Aku melenguh panjang mencicipi spermaku muncrat, menyusul Ibu Ana yg sudah terlebih dahulu memperoleh orgasmenya. Begitu nikmatnya orgasme yg kurasakan itu sehingga membuat laharku bagaikan air bah menerjang masuk ke dlm liang senggama Ibu Ana. Kami berdua mengejang kencang ketika titik-titik puncak itu tercapai. Tp kenapa batang kejantananku tdk mau istirahat, dan masih terlihat perkasa. Dgn segera saya berlutut di atas ranjang. Kuminta Ibu Ana untuk berlutut juga membelakangiku dgn tangan bertumpu di kasur, jadi dlm posisi doggy style.
Kemudian Ana kudorong sedikit ke depan, sehingga pantatnya agak naik ke atas, yg lebih memudahkan batang kejantananku untuk melakukan penetrasi ke dlm lubang senggamanya. Setelah itu langsung kusodok kemaluan yg kini sudah terlihat agak merekah itu dgn batang keperkasaanku dari belakang. Tubuh Ibu Ana terhenyak sampai hampir terjungkal ke depan tanggapan kerasnya sodokanku itu, sementara mulutnya menjerit keenakan. Dlm sekejap, senjata-ku itu seluruhnya ditelan oleh meqi itu dan langsung menjepitnya.
Jepitan meqi Ibu Ana yg berdenyut-denyut menambah gairah birahiku yg memang sudah menggelora. Dgn cepat, kutarik kejantananku sampai hampir keluar dari dlm liang senggamanya, kemudian kutusukkan kembali dgn cepat. Kemudian kutarik dan kusodok lagi, seterusnya berulang- ulang tanpa henti. Doronganku yg keras ditambah dgn sensasi kenikmatan yg luar biasa membuat Ibu Ana beberapa kali nyaris terjerembab.
Namun itu tdk menjadi masalah sama sekali. Bahkan sebaliknya, membuat permainan kami berdua menjadi kian panas. Lalu,
“Ooocchh… uh… uh… uh…” nafasku terengah-engah.
Kurasakan sekujur tubuhku mulai kehabisan tenaga. Tenagaku sudah begitu terkuras, tetapi saya belum mau berputus asa. Kucoba mengeluarkan sisa-sisa tenaga yg masih ada semampuku. Dgn sedikit mengejang, kugenjot batang kejantananku kembali ke dlm luabng kenikmatannya sekuat-kuatnya. Ibu Ana pun tdk mau kalah, ia maju-mundurkan tubuhnya dgn ganasnya.
Akhirnya, Ibu Ana melenguh panjang, muncratlah lahar-nya, disusul beberapa detik kemudian oleh kemaluanku. Lalu secepat kilat kukeluarkan K0ntolku dari dlm lubang kenikmatan Ibu Ana dan langsung jatuh terkapar di kasur. Lalu, Ibu Ana langsung meraih batang kejantananku itu dan dimasukkan ke dlm mulutnya. Ibu Ana mengocok k0ntolku itu di dlm mulutnya yg memang agak kecil.
Namun Ibu Ana berhasil melumat batang keperkasaanku dgn nikmatnya. Gesekan-gesekan yg terjadi antara kulit kemaluanku yg sensitif dgn lisan Ibu Ana yg berair dan licin ditambah dgn gigitan-gigitan kecil yg dilakukan oleh giginya yg putih lantaran pakai “Smile-Up Man”, membuat saya tdk sanggup menahan diri lagi. Muncratan-muncratan lahar kenikmatan yg keluar begitu banyaknya dari batang keperkasaanku langsung ditelan seluruhnya, hampir tanpa sisa oleh Ibu Ana. Sebagian meleleh keluar dari mulutnya dan jatuh membasahi kasur. Belum puas sampai disitu, ia masih menjilati sekujur batang kejantananku sampai bersih total mirip sediakala.
Bukan main! Lalu kami berdua tergeltak di atas tempat tidur dgn tubuh telanjang yg dibasahi oleh keringat dan lahar kami. Kemudian saya tertidur. Tiba-tiba,
“Aaauuuwww..,” kepalaku sakit sekali, terus saya terbangun tetapi kurang terang saya melihat tiga orang sudah berada di sekelilingku. Semuanya memakai seragam putih-putih. Satu cowok dan dua cewek. Setelah itu penglihatanku mulai jelas, dan benar dugaanku, saya kini berada di rumah sakit. Tp bagaimana bisa..? Terus apa yg kulakukan tadi itu gimana..?

