
ini bermula pada waktu itu saya lagi kuliah di semester VI di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Bandung. Ceritanya dikala itu saya lagi putus dengan pacarku dan memang ia tidak tahu diri, sudah dicintai malah bertingkah, kesannya dari dongeng cintaku cuma berumur 2 tahun saja
Waktu itu saya tinggal berlima dengan sobat satu kuliah juga, kita tinggal serumah atau ngontrak satu rumah untuk berlima. Kebetulan di rumah itu hanya saya yang laki-laki. Mulanya saya bilang sama abang perempuanku, “Sudah, saya pisah rumah saja atau kos di tempat”, tapi kakakku ini saking sayangnya padaku, ya saya tidak diperbolehkan pisah rumah. Kita pun tinggal serumah dengan tiga sobat perempuan kakakku.
“Itu apanya Bu?” tanyaku.
Memang dalam kesehari-harianku, ibu Vivin tahu alasannya saya sering juga curhat sama ia alasannya ia sudah kuanggap lebih bau tanah dan tahu banyak hal. Aku mulai cerita,
“Tahu nggak persoalan yang kuhadapi? Sekarang saya gres putus sama pacarku”, kataku.
“Oh.. gitu ceritanya, pantesan aja dari ahad kemarin murung aja dan sering ngalamun sendiri”, kata Ibu Vivin.
Begitu dekatnya saya sama Ibu Vivin hingga suatu waktu saya mengalami insiden ini. Entah kenapa saya tidak sengaja sudah mulai ada perhatian sama Ibu Vivin. Waktu itu tepatnya siang-siang semuanya pada kuliah, saya sedang sakit kepala jadinya saya mangkir dari kuliah. Siang itu sempurna jam 11:00 siang dikala saya bangun, eh agak sedikit heran kok masih ada orang di rumah, biasanya kalau siang-siang bolong begini sudah pada nggak ada orang di rumah tapi kok hari ini kayaknya ada sobat di rumah nih. Aku pergi ke arah dapur.
“Eh Ibu Vivin, nggak ngajar Bu?” tanyaku.
“Kamu kok nggak kuliah?” tanya dia.
“Habis sakit Bu”, kataku.
“Sakit apa sakit?” goda Ibu Vivin.
“Ah.. Ibu Vivin dapat aja”, kataku.
“Sudah makan belum?” tanyanya.
“Belum Bu”, kataku.
“Sudah Ibu Masakin aja sekalian sama kau ya”, katanya.
Dengan cekatan Ibu Vivin memasak, kita pun pribadi makan berdua sambil ngobrol ngalor ngidul sampai-sampai kita membahas dongeng yang agak berbau seks. Kukira Ibu Vivin nggak suka yang namanya dongeng seks, eh tau-taunya ia membalas dengan dongeng yang lebih hot lagi. Kita pun sudah semakin jauh ngomongnya. Tepat dikala itu saya ngomongin perihal perempuan yang sudah usang nggak merasakan korelasi dengan lain jenisnya.
“Apa masih ada gitu keinginannya untuk itu?” tanyaku.
“Enak aja, emangnya nafsu itu ngenal usia gitu”, katanya.
“Oh kalau gitu Ibu Vivin masih punya cita-cita dong untuk ngerasain bagaimana korelasi dengan lain jenis”, kataku.
“So niscaya dong”, katanya.
“Terus dengan siapa Ibu untuk itu, Ibu kan belum kawin”, dengan enaknya saya nyeletuk.
“Aku bersedia kok”, kataku lagi dengan sedikit agak dingin sambil kutatap wajahnya. Ibu Vivin agak merah pudar entah apa yang membawa keberanianku semakin membludak dan entah kapan mulainya saya mulai memegang tangannya. Dengan sedikit agak gugup Ibu Vivin kebingungan sambil menarik kembali tangannya, dengan sedikit perjuangan saya harus merayu terus hingga ia benar-benar bersedia melakukannya.
“Okey, sorry ya Bu, saya sudah terlalu lancang terhadap Ibu Vivin”, kataku.
“Nggak, saya kok yang salah memulainya dengan meladenimu bicara soal itu”, katanya.
Dengan sedikit kegirangan, dalam hatiku dengan lembut kupegang lagi tangannya sambil kudekatkan bibirku ke dahinya. Dengan lembut kukecup keningnya. Ibu Vivin terbawa dengan situasi yang kubuat, ia menutup matanya dengan lembut. Juga kukecup sedikit di bawah kupingnya dengan lembut sambil kubisikkan, “Aku sayang kamu, Ibu Vivin”, tapi ia tidak menjawab sedikitpun.
Dengan sedikit agak ragu juga kudekatkan bibirku mendekati bibirnya. Cup.. dengan begitu lembutnya saya merasa kelembutan bibir itu. Aduh lembutnya, dengan cekatan saya sudah menarik tubuhnya ke rangkulanku, dengan sedikit agak berangasan kukecup lagi bibirnya. Dengan sedikit terbuka bibirnya menyambut dengan lembut.
Kukecup bibir bawahnya, eh.. tanpa kuduga ia balas kecupanku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan. Kutelusuri rongga mulutnya dengan sedikit kukulum lidahnya. Kukecup, “Aah.. cup.. cup.. cup..” ia juga mulai dengan nafsunya yang membara membalas kecupanku, ada sekitar 10 menitan kami melakukannya, tapi kali ini ia sudah dengan mata terbuka. Dengan sedikit ngos-ngosan kayak habis kerja keras saja.
“Aah.. jangan panggil Ibu, panggil Vivin aja ya!
Kubisikkan Ibu Vivin, “Vivin kita ke kamarku aja yuk!”.
Dengan sedikit agak kaget juga tapi tanpa perlawanan yang berarti kutuntun ia ke kamarku. Kuajak ia duduk di tepi kawasan tidurku. Aku sudah tidak tahan lagi, ini saatnya yang kutunggu-tunggu. Dengan perlahan kubuka kacing bajunya satu persatu, dengan lahapnya kupandangi tubuhnya. Ala mak.. indahnya badan ini, kok nggak ada sih pria yang kepengin untuk mencicipinya. Dengan sedikit membungkuk kujilati dengan telaten.
Pertama-tama potongan gunung kembarnya. “Ah.. ssh.. terus Ian”, Ibu Vivin tidak sabar lagi, BH-nya kubuka, terpampang sudah buah kembar yang semok ukuran 34 B. Kukecup ganti-gantian, “Aah.. ssh..” dengan sedikit agak ke bawah kutelusuri alasannya dikala itu ia sempurna memakai celana pendek yang kainnya agak tipis dan celananya juga tipis, kuelus dengan lembut, “Aah.. saya juga sudah mulai terangsang.
Kusikapkan celana pendeknya hingga terlepas sekaligus dengan celana dalamnya, hu.. cantiknya gundukan yang mengembang. Dengan lembut kuelus-elus gundukan itu, “Aah.. uh.. ssh.. Ian kau kok bakir sih, saya juga sudah nggak tahan lagi”, bekerjsama memang ini yaitu pemula bagi aku, eh rupanya Vivin juga sudah kepengin membuka celanaku dengan sekali tarik aja terlepas sudah celana pendek sekaligus celana dalamku. “Oh.. besar amat”, katanya. Kira-kira 18 cm dengan diameter 2 cm, dengan lembut ia mengelus zakarku, “Uuh.. uh.. shh..” dengan cermat saya berubah posisi 69, kupandangi sejenak gundukannya dengan niscaya dan lembut.
Aku mulai menciumi dari pusarnya terus turun ke bawah, kulumat kewanitaannya dengan lembut, saya berusaha memasukkan lidahku ke dalam lubang kemaluannya, “Aah.. uh.. ssh.. terus Ian”, Vivin mengerang. “Aku juga lezat Vivin”, kataku. Dengan lembut di lumat habis kepala kemaluanku, di jilati dengan lembut, “Assh.. oh.. ah.. Vivin terus sayang”, dengan lahap juga kusapu semua dinding lubang kemaluannya, “Aahk.. uh.. ssh..” sekitar 15 menit kami melaksanakan posisi 69, sudah kepengin mencoba yang namanya bersetubuh. Kurubah posisi, kembali memanggut bibirnya.
Sudah terasa kepala kemaluanku mencari sangkarnya. Dengan dibantu tangannya, diarahkan ke lubang kewanitaannya. Sedikit demi sedikit kudorong pinggulku, “Aakh.. sshh.. pelan-pelan ya Ian, saya masih perawan”, katanya. “Haa..” saya kaget, benar rupa-rupanya ia masih suci. Dengan sekali dorong lagi sudah terasa licin. Blesst, “Aahk..” teriak Vivin, kudiamkan sebentar untuk menghilangkan rasa sakitnya, sesudah 2 menitan lamanya kumulai menarik lagi batang kemaluanku dari dalam, terus kumaju mundurkan. Cerita dewasa
Mungkin alasannya gres pertama kali hanya dengan waktu 7 menit Vivin.. “Aakh.. ushh.. ussh.. ahhkk.. saya mau keluar Ian”, katanya. “Tunggu, saya juga sudah mau keluar akh..” kataku. Tiba-tiba menegang sudah lubang kemaluannya menjepit batang kemaluanku dan terasa kepala batang kemaluanku disiram sama air surganya, membuatku tidak berpengaruh lagi memuntahkan.. “Crot.. crot.. cret..” banyak juga air maniku muncrat di dalam lubang kemaluannya. “Aakh..” saya lemas habis, saya tergeletak di sampingnya.
Dengan lembut ia cium bibirku, “Kamu menyesal Ian?” tanyanya. “Ah nggak, kitakan sama-sama mau.” Kami cepat-cepat berberes-beres biar tidak ada kecurigaan, dan semenjak insiden itu saya sering bermain cinta dengan Ibu Vivien hal ini tentu saja kami lakukan kalau di rumah sedang sepi, atau di kawasan penginapan apabila kami sudah sedang kebelet dan di rumah sedang ramai. semenjak insiden itu pada diri kami berdua mulai bersemi benih-benih cinta, dan sekarang Ibu Vivien menjadi pacar gelapku.
