Setelah beberapa bulan berteman saya dikirimi foto oleh dia. Wah, rupanya orangnya anggun sekali. Belakangan saya mengetahui bila tinggi dan berat badannya 167 cm dan berat 52 kg. Orangnya memiliki postur tubuh yang benar- benar ideal. Akhirnya tepatnya Juni ketika liburan kuliah beliau memutuskan untuk tiba ke Surabaya.
Saya menjemputnya di bandar udara Juanda, tanggalnya saya masih ingat yaitu tanggal 22 Juni. Setelah pesawatnya tiba saya mencari-cari dia. Tidak terlalu sulit menemukan beliau alasannya yaitu saya sudah memiliki fotonya. Dan rupanya orangnya benar-benar cantik, kulitnya putih pokoknya tidak rugi saya kenal sama beliau deh.
“Halo apakah kau yang berjulukan Juni?”
“Wah kau rupanya, kau niscaya Donny kan?”
“Iya benar.” “Wah rupanya kau keren yach, hahaha..”
“Thanks atas pujiannya. Mau ngobrol di sini terus emangnya hingga malam.”
“Yah terperinci nggak donk, so jadi saya nginap di Hotel **** (edited). Kamu udah booking-kan khan?”
“Tentu dong, apa mau diantar sekarang?”
“Boleh saya capek banget nich, ayo berangkat sekarang!”
“Ayo..”
Setelah 1 jam tiba di Hotel tersebut saya meninggalkan Juni tentunya atas kehendaknya alasannya yaitu beliau ingin beristirahat. Sore- sore sekitar pukul 18 :00 beliau menelepon di HP saya dan menyuruh saya untuk mejemputnya makan malam.
Sekitar pukul 19 :00 saya hingga di hotel, Juni menggunakan baju tank top dan rok mini yang tentunya menciptakan semua mata pemuda tertuju pada dia. Karena Juni sudah menunggu di bawah maka tanpa basa bau saya dan beliau pribadi cabut.
“Mau makan di mana nich?” “Terserah dech, pokoknya saya udah lapar banget dech.”
“Bagaimana bila di restaurant .”
“Beres dech, pokoknya makan.”
Setelah makan kemudian kami berkeliling kota tanpa tujuan. Akhirnya beliau memutuskan untuk main di tempat kontrakan saya. Karena saya tinggal sendirian di tempat kontrakan saya tentunya tidak ada yang bakalan murka bila Juni saya bawa ke kontrakan. Di kontrakan saya, kami berdua ngobrol-ngobrol hingga tidak terasa sudah jam 23 :00 WIB.
“Hah udah jam segini, gimana dong?”
“Wah iya yach.. kau mau pulang sekarang? Aku antar yuk!”
“Hm, nggak lezat nich, masak malam- malam saya nyuruh kau ngantar aku, agar saya pulang sendiri aja dech naik taksi.”
“Jangan, masak kau pulang sendiri? Gini ajalah mending kau nginap di sini aja. Kebetulan di sini ada kamar kosong kok. Itu bila kau nggak keberatan.”
“Ok dech, tapi jangan macam- macam yach!”
Kami mengobrol hingga pukul 02 :00 pagi. Makin usang saya melihat si Juni semakin seksi. Tubuhnya yang seksi menciptakan saya sangat bernafsu tapi saya tidak berani macam-macam terhadap dia. Dan kemudian alhasil Juni memutuskan untuk tidur.
Saya mempersilakan beliau tidur di kamar saya alasannya yaitu di sana lebih lengkap ada kamar mandi dan ber-AC, sedangkan saya sendiri tidur di kamar yang lainnya. Sewaku Juni masuk ke kamar mandi untuk sikat gigi saya segera menyusup masuk ke kamar saya untuk mengambil beberapa barang diam-diam saya, menyerupai boneka dan kondom yang ada di lemari saya.
Malam- malam di kamar tamu alasannya yaitu sangat terangsang dengan keindahan tubuh Juni saya melalukan onani dengan boneka yang saya punyai itu. Saya ingin mencari “ayam” di luar untuk melampiaskan nafsu saya tapi sungkan sama Juni alasannya yaitu meninggalkan dia. Kaprikornus alhasil saya memutuskan melaksanakan onani yang ditemani boneka anggun itu.
Boneka itu memang khusus untuk laki-laki melaksanakan onani. Saya melepas semua pakaian yang saya kenakan kemudian memasang kondom di kontol saya kemudian saya mulai menindih dan melaksanakan onani terhadap boneka itu alasannya yaitu saya san gat terangsang mengingat keindahan tubuh Juni . Saya melaksanakan onani dengan boneka itu sambil membayangkan saya sedang melaksanakan hubungan seks dengan Juni.
Malam itu saya melaksanakan onani sebanyak 3 kali hingga persediaan kondom saya habis. Kalau tidak pakai kondom takutnya nanti spermanya tercecer di dalam boneka sehingga saya harus mencucinya. Lalu alhasil saya tertidur lelap tanpa menggunakan apapun. Pagi-pagi ketika Juni hendak membangunkan saya, beliau pribadi masuk ke kamar yang lupa saya kunci.
Wajahnya bersemu merah melihat saya yang tidur dalam keadaan telanjang. Saya sendiri kaget melihat beliau dengan cepat menutup kawasan bab kontol saya. Kemudian beliau keluar dengan tergesa- gesa dengan wajah merah. Lalu saya mengenakan pakaian dan mandi dengan segera.
Setelah itu kami berdua sarapan yang disiapkan oleh pembantu tidak tetap. Karena saya ingin berduaan dengan Juni, saya menyuruh pembantu saya pulang dengan alasan saya mau keluar. Akhirnya pembantu itu pulang dan tinggal saya dan Juni berdua.
Kemudian Juni bertanya,
“Kok kau tidur telanjang sih, terus pake boneka segala? Itu niscaya boneka untuk pemuda yach?”
“Wah kok tau? Abis mau gimana lagi, lihat tubuh kau yang seksi siapa yang tahan? Mau gimana lagi, satu- satunya jalan yah onani dech.”
“Itu salahmu, siapa suruh kau nggak mau minta saya waktu tadi malam?”
“Hah? Kaprikornus boleh nich saya main sama kamu?”
“Kalau nggak boleh ngapain saya tadi ngomong gitu.”
“Wah kalo gitu saya minta kini yach, saya dari kemarin bener-bener nggak tahan nich.”
“Terserah kau aja, soalnya saya juga nafsu sama kau nich, tapi kau masih ada kondom khan? Aku nggak mau ah bila nggak pakai kondom, soalnya saya ini kayaknya dalam masa subur nich.”
“Wah kayaknya udah habis tuh, saya pake tadi malam untuk onani. Kalau gitu saya beli dulu dech.”
Setelah sarapan saya segera ke apotek membeli kondom isi 12 warna hitam kemudian pulang.
“Nich kondomnya udah ada nich, so sanggup khan mulai sekarang.”
“Wah udah nggak sabaran yach?”
“Ya iyalah, gimana mau sabaran bila udah dikasih lampu hijau kayak gitu. Aku bawa kau ke kamar yach!”
“Boleh.”
Lalu saya menggendong Juni ke kamar sambil berciuman. Setelah di kamar saya membaringkan Juni di tempat tidur, kemudian saya menutup pintu. Setelah menutup pintu saya menuju ke ranjang dan melihat Juni yang sudah terlentang pasrah.
Tanpa membuang kesempatan lagi saya dan Juni segera saling berpelukan, saling meraba dan saling berciuman. Rupanya ciuman Juni tersebut sudah sangat hebatnya. Dia tampaknya sudah berpengalaman dalam kiss.
Setelah berciuman beberapa waktu saya mulai melepaskan baju dan rok Juni dengan perlahan-lahan sambil tetap berciuman. Setelah bajunya terlepas terlihat dadanya yang sangat luar biasa. Saya sambil menelan ludah beberapa kali melihat dadanya yang besar yang masih tertutup tersebut. Dadanya itu tampaknya berukuran 36B.
Dengan tidak sabar lagi saya segera membuka epilog dadanya dan terlihatlah dadanya yang sangat indah tersebut. Tanpa basa bau lagi dan tanpa meminta ijin saya pribadi meraba, meremas dan mengisap dadanya. Hal itu menciptakan Juni merintih- rinih kenikmatan.
“Oh.. uhh.. ohh pelan- pelannhh oohh..”
Kemudian saya mulai meraba-raba celana dalamnya yang nampaknya sudah basah. Melihat saya meraba-raba bab memeknya yang masih tertutup celana dalam kemudian beliau melepaskan sendiri celana dalamnya. Wow, tampaklah memeknya yang indah dan menyerupai perawan (belakangan gres saya mengetahui bahwa beliau memiliki obat yang sanggup merapatkan memek). Bulu-bulunya yang tidak tebal tetapi juga tidak tipis.
Bulu-bulu kelaminnya sangat rapi menambah keindahannya. Segera saya mencium dan menjilat memeknya yang menciptakan beliau semakin merintih kenikmatan. Tangannya menjambak rambur saya sambil sesekali juga meremas bantal, seprei dan sebagainya.
Sedangkan tangan saya tetap meraba-raba dadanya yang molek itu. Sambil tetap menjilat-jilat memeknya yang sudah semakin lembap itu, saya mulai melepas pakaian saya satu persatu. Baju dan celana begitu terlepas langsu ng dilempar begitu saja oleh Juni.
Jeritan kenikmatannya makin menjadi-jadi ketika saya mencoba memasukkan jari saya ke dalam memeknya. Hal itu menciptakan beliau tampaknya semakin tidak tahan. Saya melaksanakan secara begantian. Memasukkan jari kemudian menjilat dan seterusnya, hingga akhirnya, “Auhh.. aahh.. oohh.. aauu keluar..” terasa ada cairan hangat yang keluar dari memeknya.
Saat Juni mencapai orgasme beliau hingga mendekap kepala saya dengan kedua pahanya sehingga kepala saya terjepit di memeknya, sehingga saya sempat mencicipi cairan Juni yang benar-benar tiada duanya. Setelah itu Juni terkulai lemas, sedangkan saya belum apa-apa. Namun saya membiarkan beliau dulu untuk meresapi keindahan yang gres dicapainya sambil menunggu beliau kembali lagi.
Dan benar, 5 menit kemudian tampaknya beliau mulai garang kembali. Juni pribadi melepas celana dalam yang saya kenakan, kemudian beliau menyuruh saya berbaring. Sambil berbaring beliau menjilat- jilat seluruh tubuhku menciptakan saya merasa keenakkan dan menciptakan saya melenguh berulang-ulang kali.
Lalu semakin usang ciuman dan jilatan Juni makin ke bawah, dan alhasil hingga ke kawasan kontol. Kontol saya waktu itu sudah tegak sekali alasannya yaitu ciuman Juni yang dari tadi. Lalu Juni mulai memasukkan kontolnya ke dalam mulutnya dan,
“Ohh.. iihh..” hisapannya benar-benar luar biasa, tidak pernah saya rasakan sebelumnya dengan perempuan manapun. Dia sangat arif dalam mempermainkan kontol saya. Kadang-kadang dikulum bab kepalanya kemudian bab bawah kepala kemudian buah zakarku dan kadang- kadang pula disertai remasan yang tidak terlalu pelan tetapi tidak terlalu keras. Hal itu benar-benar menciptakan saya merasa kenikmatan bercinta.
Hisapan Juni yang luar biasa itu menciptakan saya ingin segera memulai permainan yang sesungguhnya. Akhirnya saya bangun berdiri dan membaringkan Juni. Saya menyempatkan mencium bibir Juni, meremas dadanya dan mencium memeknya.
Dan rupanya memeknya sudah kembali basah. Setelah itu saya mengambil posisi yang sempurna untuk memasukkan kontol saya ke memek Juni . Tetapi Juni memperingatkan saya untuk menggunakan kondom. Lalu saya mengambil kondom yang tadi sudah saya beli dan segera memasangkan pada kontol saya.
Setelah siap, Juni yang sedang berbaring mengambil bantal untuk ditaruh di bawah pantatnya dan saya segera duduk dan siap untuk menembakkan kontol saya ke arah memeknya. Pertama kali saya menyodokkan kontol saya, tidak masuk. Lalu untuk kedua kalinya saya menyodoknya masuk dan rupanya sempurna sasaran masuk ke dalam memek Juni.
Saya memasukkannya perlahan-lahan mulai kepalanya, kemudian masuk setengahnya dan alhasil masuk seluruhnya, dan ketika saya mulai memasukkannya hal tersebut menciptakan Juni menjerit kenikmatan. Saya dan Juni sama- sama bergoyang penuh kenikmatan. Kadang- kadang saya meraba- raba dadanya atau bulu memeknya sambil tetap mengeluar-masukkan kontol saya ke dalam memek Juni dan memastikannya kontol saya tidak keluar dari sarungnya.
Setelah 10 menit kemudian Juni meminta saya untuk mengganti posisi. Dia menyuruh saya berbaring kemudian beliau duduk di atas sambil bergoyang. Katanya posisi itu menciptakan beliau cepat mencapai puncak klimaksnya. Dalam posisi itu kadang kala kami saling berpagutan, kemudian saya meraba-raba dadanya yang sangat saya sukai bentuknya dan ukurannya.
Tidak usang kemudian terasa di kontol saya yang berada di dalam memek Juni ada cairan kenikmatan. Rupanya Juni telah mencapai klimaksnya untuk yang kedua kalinya. Semenit kemudian saya merasa juga akan mencapai klimaksnya maka saya mulai menggerakkan tubuh saya dengan cepat dan “Croott..” sperma saya keluar dengan banyak dan segera saya cabut kontol saya yang bersarung itu dari memek Juni.
Lalu Juni melepas kondom yang saya gunakan itu dan kemudian beliau menjilat kontol saya. Sejenak kami tenang mencicipi kenikmatan yang gres kami rasakan dan alhasil kami tertidur. Saya dan Juni melaksanakan aktivitas seks itu sebanyak delapan kali.






