Cerita Sex Sampaumur Saya Diperkosa Dua Lelaki

Cerita Sex Dewasa Aku Diperkosa Dua Lelaki

Cerita Sex Dewasa - Minggu ahad ini banyak terjadi kemalingan masuk keperumahan yang kami tempati, sebab was was jikalau terjadi kemalingan yang sebelum belumnya maka komplek perumahan mengadakan ronda malam atau menyewa penjaga malam, kebetulan ada 2 dua yang kosong katanya sering dotempati sebagai tempat persembunyian perampok.

Malam itu saya terkena influenza berat sebab kehujanan sepanjang siang.

“Aku masih menyiapkan makanan untuk penjaga malam, mas….!!”, kata istriku yang berpostur tubuh mungil dengan tinggi 155 cm, berwajah menarik menyerupai bintang Film Mandarin, meskipun kulitnya agak sawo matang dengan rambut pendek, sehingga tampak lebih muda dari usianya yang menginjak 40 tahun.

Malam itu udara sangat panas sehingga ia hanya menggunakan daster yang tidak mengecewakan tipis, sehingga menunjukkan bentuk tubuhnya, utamanya pantat molek nya yang empuk itu yang bergoyang dikala berjalan.

Walaupun perutnya tidak ramping lagi, sebab sudah dua kali mengandung dan model dasternya berkancing di depan sehingga payudara biarpun tidak besar, tapi padat berisi, yang berukuran 34C agak tersembul dan kedua puting susu nya tampak menonjol dari balik dasternya sebab memang ia jikalau dirumah hanya menggunakan camisole tipis saja.

“Sudah pukul sepuluh kok belum datang, ya ..!”, ia bergumam sendiri sebab mengira saya sudah tertidur.

Beberapa dikala kemudian kudengar dua orang bercakap-cakap di luar dan mengetuk pintu rumah pelan. Istriku yang rebahan di sampingkupun berdiri dan entah tersadar atau tidak istriku membetulkan rambutnya dan memoles bibirnya sehingga bibirnya semakin merah.

“Lho ????”, gumannya pelan ketika tersadar ia memoles bibirnya, tapi sebab penjaga malam itu terus mengetuk pintu, ia pun tak jadi membersihkan bibirnya yang merah merangsang itu.
“Malam, Bu Yati…!”, terdengar bunyi seseorang dan saya mengerti jikalau bunyi itu ialah Pak Deran dan istriku sudah dikenal oleh dua orang petugas jaga tersebut sebab sering istriku pulang malam seusai mengajar di kampusnya.
“Masuk dulu Pak Deran..!”, terdengar istriku mempersilahkan penjaga malam itu masuk, sementara kudengar bunyi halilintar yang cukup keras dan hujan tiba-tiba turun dengan derasnya.
“Wah hujan ? saya sama Pak Towadi, Bu Yati..!” katanya.

“Nggak apa-apa,… masuk saja … lagian hujan deras, pak….!” kata istriku.

“Selamat malam, Bu Yati..!” kudengar Pak Towadi memberi salam pada istriku.

“Sebentar tak buatkan kopi ..!” kata istriku, kemudian kudengar istriku berjalan menuju dapur di belakang rumah.

“Di, lihat kau ngga?!” terdengar bunyi bisikan Pak Deran,

“Kamu kacau, Ran?!” tanggapan bunyi bisikan Pak Towadi.

“Kamu lihat, enggak..?” bunyi Pak Deran lagi,

“Iya, Ran muncul…., kayak penghapus ?” kata Pak Towadi,

Rupanya mereka berbisik-bisik mengenai puting susu istriku yang menonjol di balik dasternya, sebab malam itu istriku hanya mengenakan camisole di balik dasternya.

“Pantatnya bahenol, lagi….,” lanjut bisikan Pak Deran,

“Hus istri orang itu, Ran..!” kata Pak Towadi,

“Eeh, ini malam Jum’at, kan..? Pas kuat-kuatnya ilmuku hi hi?!!!” kudengar Pak Deran tertawa ditahan pelan,

“Dicoba aja.., yok…, siapa tahu Bu Yati mau…!” kata Pak Deran.

Kuingat Pak Towadi orangnya hitam agak tinggi dengan tubuh kekar dan Pak Deran orangnya tambun pendek, keduanya berumur 50 tahunan lebih, saya bergidik juga mendengar perkataan mereka mengenai istriku tadi.

Mereka penduduk orisinil kawasan itu, populer sangat doyan dengan perempuan, bahkan mereka pernah bercerita dikala saya jaga malam, jikalau pernah menciptakan pedagang jamu yang bertubuh bahenol, yang sering keliling dua ahad sekali di kawasan tempat tinggalku.

Pernah dibentuk hampir tak sanggup berjalan sebab digilir mereka berdua, dimana dikala itu pedagang jamu itu masih perawan dan hingga dikala bercerita malam itu, pedagang jamu itu masih sering meminta kepada mereka berdua untuk menggilirnya.

Biarpun kini sudah bersuami, katanya tak pernah puas dengan suaminya yang masih muda, bahkan pedagang jamu itu pernah meminta mereka berdua tiba ke rumahnya.
“Kalau sudah kena punya kami, pak, …. Waahhh…perempuan niscaya malas dengan suaminya dan?..suaminya tak berkutik jikalau kami ada, dan membiarkan kami tidur bersama istrinya dalam satu kamar bersama suaminya”, kata Pak Deran terkekeh kekeh malam itu.

Kemudian kudengar bunyi bisikan mereka lagi….. “Kamu jangan ngaco, Ran.

Sudah nanti kelewatan?!” kata Pak Towadi

“Keris pusakaku.. ku bawa.. Di…. Ini ..he he he ?!” kata Pak Deran,

“kamu jangan, gitu Ran…, orangnya lagian baik…, kasihan suaminya nanti, pinginnya sama kau aja nanti .. !!” bunyi Pak Kardi lagi.

Karena perasaanku nggak lezat alhasil kuputuskan untuk keluar dan mereka berdua terlihat kaget melihatku, tapi Pak Deran yang membawa keris pribadi mencabut kerisnya dan pribadi mengarahkan kerisnya padaku dan tiba-tiba gelap menyelimutiku.

Kemudian saya terjaga dan kudapati diriku di tempat tidur kembali, kutoleh pintu kamarku dan kusen kamar dan lantai pintu kulihat menyerupai membara.

“Eeeecch ?….eeeeccchhh. …eeeeecccchhhh …..!!!! ”

Kudengar desis istriku dan akupun turun, tubuhku terasa lemas sehingga saya merangkak mendekati pintu kamar dan…… menyerupai terkena listrik beribu ribu volt dikala tanganku memegang kunci kamarku hingga saya tersengkur makin lemas menyerupai karung bersimpuh di depan pintu kamar yang sedikit terbuka itu.

Aku tak percaya melihat di ruang tamu dari pintu kamar yang terbuka sedikit itu, kulihat istriku berdiri di depan Pak Deran yang membawa selongsong keris sebesar batang kemaluan orang remaja lebih besar dari lampu TL 40 watt yang ujungnya di arahkan kepada istriku yang berdiri.

Sedangkan tangan yang satunya seolah memelintir di ujung lainnya yang berbentuk abjad U memanjang itu. Kedua tangan Pak Deran kini memegang pangkal keris yang melengkung itu dan kedua jarinya memelintir ujung nya dan kulihat istriku yang berdiri, tubuhnya bergetas dan kembali mendesis

“Heeeggghhh ?..oooooohhhhhhh. ……ooooooohhh hhhhh…. ..!!!!!” Pak Deran bukan lagi menyerupai memelintir tapi menarik narik kedua ujung keris berbentuk U itu dan terlihat istriku membusungkan dadanya menyerupai kedua puting susu nya tertarik ke depan.

“Mmm heeeggggh ?..aaaaaaa… .aaaaduuuuuhhhhh h……!! !!!” istriku mendesis panjang dan Pak Deran pribadi mengulum salah satu ujung U itu dan …. “Paaak ?.paaakkkk… .jaa…jaaangaaa annnnn ?.paaakkkkk.. ….!!!!! ” bunyi desis istriku memelas dan asisten istriku secara refleks memegang payudara kanannya, istriku mendesis-desis kembali….. “Ummmppff?. Paakkkk….. jaaa….jaaaaang aaaannnn ? paaaakkkk ?..!!!!” istriku mendesis.

Tangan kanan Pak Deran memelintir ujung satunya dan istriku pun memegang kedua payudaranya kembali yang masih terbungkus daster dan camisole nya itu.

“EEecccchhhhhhhgggg hhhhh ??!!!!!!!” istriku mendesah lagi dikala Pak Deran memutar selongsong kerisnya sehingga pangkal keris berbentuk U itu berdiri.

Sementara jari-jari tangan kanannya mengelus-elus pinggiran lubang keris itu dan kulihat pantat molek istriku pun bergetar dengan hebat. Pak Deran semakin cepat mengelus dan bahkan menggosok lubang keris itu dan istriku pun mengerang-erang

“Paaakk ? paaakkk….suuu. ..suuuuddaaaaahh ? paaakkk ?jangaaan diteruuuuskaaaaan ?.eeeecchghghghghghg h ??.!!!!!”, sementara pantatnya pun bergetar jago dan kedua tangan istriku memegang pantat molek nya yang bergetar jago dikala Pak Deran menjilati lubang keris itu dan pantat molek istriku meliuk liuk tak karuan.

Kedua tangannya meramas pantat molek nya sendiri yang mulai maju mundur dikala Pak Deran menyedot nyedot lubang keris itu dan bahkan pengecap Pak Deran menjilati lubang itu dan…..

“Mmmppfffhhh hghghghgghghg ?.” istriku semakin keras mendesis desis, selangkangan nya terangkat angkat dan mendekati ujung selongsong keris ysng tengah disedot sedot dan dijilati lubangnya oleh Pak Deran.

`Paaaak ? sudddaaaah ngngngngngngng hhhheeeghghghghgh??!!!” istriku mendesis kedua matanya tertutup dan selangkangan nya tertarik ke depan hingga selangkangan nya kini mengesek ngesek sarung keris itu.

“Suudddaaaaah paaaak jangaaaaan sudaaah eeeeechghghghg ?.!!!!” istriku terus mendesis desis. Kemudian Pak Deran menghentikan aksinya.

“Diii… , elus lubang kerisku ?!!!” kata Pak Deran kepada Pak Towadi yang dari tadi bengong, sementara di pangkal selangkangan nya sudah menggelembung menawarkan batang kemaluan nya sudah berdiri tegang.

Pak Towadi pribadi mengelus lubang keris Pak Deran dan kembali…. “Eeeeee….. eeeeee… .eeeeehhhhh. ….eeeecccchhhg hghghg?..! !!!!” istriku mendesis.

“Enak Bu Yati….?” tanya Pak Deran yang berdiri dihadapannya dan selangkangan istriku masih melekat di sarung keris itu.

Istriku ngga menjawab, membisu saja……

“Ooooo.. kurang lezat rupanya?!!!” kata Pak Deran kemudian…. .. “Jaaa….jaaaangaaa nnnn….. , paaakkkk…. ..!!!!” rintih istriku memelas,

“Singkap dastermu, Buuuu……! !!!” perintahnya.

“Paaak …..oooohhhhhh. …jaaa.. ..jaaangaaannn ….paakkkk. …..!!!! ” istriku menghiba. “Ayooo .. nggak usah aib Buuu…. atau biar ia yang mencari jalannya sendiri?!” kata Pak Deran.

Seperti diperintah sarung keris itupun melekat di selangkangan istriku dikala Pak Deran melepasnya dan….

“Paak ….jaaa…jaaangaa nnnn…paaaakkkk ?.!!!!” desis istriku dikala sarung itu mulai menggosok selangkangannya kembali, sehingga pantatnya pun bergetar kembali.

“Dii ?malam ini kita nonton dulu ? biar Mbah Gandul yang nyebokin Bu Yati, malam ini punya dia?lihat Dii ? Bu Yati menaikkan dasternya ? rupanya ia sudah kebelet….” Kulihat istriku mendesis-desis dan mengelinjang, sementara kedua tangannya memegang pantat nya sendiri dan menarik ke atas dasternya pelan-pelan, sehingga mulai tersingkap paha mulusnya.

Semakin usang pantatnya semakin bergetar cepat dan selangkangannya maju mundur oleh gosokan sarung keris yang di sebut Pak Deran, Mbah Gandul itu.

Begitu dasternya tersingkap hingga pangkal pahanya, Mbah Gandul pribadi menyusup ke selangkangan istriku dan ….. “Mmmmmmpppfff ..eeecchhhh ?..bessaaaar ??oooooohhhhhh. ….!!!” desis panjang istriku.

“Sudah, Di , kita keluar biar Bu Yati malam ini milik Mbah Gandul?!!!” kata Pa Deran.

“Bu Yati, titip Mbah Gandul yaa, selamat menikmati, besok gres kami,… Oh… ya…., besok kan ibu pulang malam?.nggak usah pake BH dan celana dalam ya jikalau pulang, nanti dibungkus dan serahkan ke saya di pos jikalau pulang? biar lebih lezat ?he he he….!!! ” kata Pak Deran sambil meremas payudara istriku yang berdiri tak berkutik dengan kedua kakinya yang terkangkang. Merekapun keluar meninggalkan istriku yang terbengong.

“Mmmpppff ….oooohhhhh. …beee.. ..besaaar ?aaamaaatttt. …!!!!” rintihnya dikala kedua orang itu telah pergi. Istriku pun berusaha duduk di kursi panjang dan rupanya ia berusaha menarik sarung keris itu keluar tapi…..

“Mbaaaah uummppfff oooooohhh… aaammmmpuuunnn. ..mmmbaaaahhh. …. ?..!!!” istriku mendesis keras.

“ooocch masuukkk ke daalaaam eeeccchh gilaaa uummpppfff heeecchhh gilaaa ?uuuccch geliiii aaaccch koook giniiii rasanyaaaaa uumppppccchh ennnnaaaaakkkkckccc hhhh??!!!” dan kulihat istriku mencengkeram erat sandaran kursi dan pantat nya bergetar keras maju mundur di tempat duduknya dan goyangan pantatnya semakin kencang, sementara keringatnya memebanjir dan nafasnya terengah engah

“Eccchhhghghghg mbaaaaah Gaaanduuull ?. akuuuu keluaaaaar ?.!!!” istriku mengerang dikala mencapai orgasme malam itu.

Tubuhnya tersungkur miring di kursi panjang dan beberapa dikala kemudian kaki nya terkangkang lebar dan tubuhnya bertumpu di kedua tangannya melihat selangkangan nya yang digarap Mbah Gandul kembali itu. Kembali pantatnya bergoyang sementara mulutnya mendesis-desis kenikmatan dan nafasnya memburu keras dan….
“Mbaaah…mmmbbaahh hhh…… ..aaaa… aaaakkuuuuu. .keee…keeeelua aaar lagiiiii ?.!!!!” ia mengerang dikala mencapai orgasme keduanya dan pantat nya tersentak-sentak. Kemudian ia duduk kembali dan berusaha berdiri dan berjalan menuju kamar, akupun cepat-cepat rebahan di tempat tidur…

“Mas…maaasss. … bangun,….mass. …!!!!” panggil istriku

“Kamu kelihatanya kok kumal dik, tadi… ku dengar ribut-ribut diluar…..! !!”

“Maas ?!!!!!” kata istriku tersipu-sipu, sambil memelukku..

Selang seminggu kemudian, kembali Pak Deran dan Pak Towari menerima giliran kiprah jaga Dan menyerupai kebiasaan yang lalu-lalu, mereka niscaya akan mampir kerumahku dengan alasan untuk minum kopi.

Sudah semenjak jam 7 malam saya masuk kekamar, dengan akal-akalan tubuh merasa ngga enak. Begitulah kira-kira jam 9 malam, terdengar ketukan pada pintu depan dan terdengar istriku yang masih nonton TV diruang tamu membuka pintu depan dan terdengar bunyi Pa Towari dan Pak Deran…

“Selamat bu Yati…. apa bapak masih bangun…?”

“Ohh…bapak ngga lezat tubuh dan sudah masuk tidur semenjak jam 7 tadi…!!!” terdengar sahutan istriku…..

“Oooo…maaf mengganggu, tapi saya hanya mampir sebentar untuk mengambil kopi saja…!!” “Kalau begitu silakan duduk dulu, saya akan menyediakan kopi didapur…!” sahut istriku lagi, sambil berjalan masuk kedalam.

Sesaat kemudian kudengar bunyi langkah kaki menyusul istriku kedapur dan…

“Bu Yati, nggak bilang suami ibu kan mengenai bencana yang lalu…. ?..!!!” terdengar bunyi Pak Towadi. Tak terdengar bunyi jawaban dari istriku.

Tak selang kemudian terdengar bunyi ribut-ribut tertahan dari arah dapur dan…….

“Ooooohhhh.. ..jangan. …Jangaan paak ?!!!!!” terdengar bunyi menghiba

“Kenapa, Bu Yati…? membisu saja bu….ntar juga niscaya lezat kok….!!!” bunyi Pa Towari kembali.

“Jangan pak, ampuun paaak ?.!!!” istriku semakin menghiba, kayaknya Pak Towadi semakin mendesaknya, kemudian dengan mengendap-edapa saya turun dari tempat tidur dan mengintip dari celah-celah pintu kamar…. dan….terlihat dengan cepat Pak Towadi melompat dan berdiri diantara kedua kaki istriku yang terkangkang lebar, dikala istriku akan mengatupkan kedua kakinya.

“Tutup selambunya, Ran…!!!” kata nya ke Pak Deran, dan Pak Deran pribadi menutup selambu dan pintu rumah. “Ayo?emut kontolku Bu Yati..” kata Pak Towadi tiba-tiba sambil mengeluarkan penisnya yang agak kecil lemas tapi panjang berbintil- bintil menyerupai buah pace mendekati lisan istriku.

“Jaaa….jaaangaann nn paaak?.aaampun paaak ??!!!!” istriku terisak sambil memegang pergelangan tangan Pak Towadi yang menyambak rambutnya dan pantat Pak Towadi maju dan batang kemaluannya yang panjang berbintil-bintil semakin bersahabat dengan lisan istriku.

“Lepas rambut saya paaak…!!!” isak istriku dan Pak Towadi melepas jambakannya dan istriku membuka mulutnya yang sudah bersahabat dengan penis Pak Towadi dan istriku mengulum penis berbintil Pak Towadi.

“Sedot Bu Yati ?.wwwuhhh Raan Bu Yati pinter nyedot kontolku ?!!!” kata Pak Towadi ke Pak Deran yang juga mendekati istriku dan “Sudaaah nanti biar Bu Yati sendiri…!! !” katanya, saya tak mengerti maksud kata-kata Pak Deran.

Kemudian Pak Towadi mencabut penis berbintilnya dari lisan istriku dan mendorong istriku untuk duduk dibangku panjang yang ada di dapur, sementara ia duduk di kiri istriku, sedang Pak Deran dikanan istriku.

“Bu Yati? gosok punyakmu sendiri ?!!” kata Pak Deran sambil memegang asisten istriku ke selangkangan nya sendiri.

“Ayooo ?.!!!” kata Pak Deran lirihdan mulailah istriku masturbasi menggosok dan mengocok bibir vaginanya sendiri hingga alhasil bunyi kecepak terdengar dari selangkangannya. ..

“Itilmu Bu Yati…!!!” kata Pak Deran dan istriku mengerang sendiri dikala memepermainkan kelentiitnya.

“Paaak ?!!!!’ istriku mendesis

“Kenapa, Bu Yati…?” tanya Pak Towadi “Paaaak ?.!’ istriku hanya mendesis

“Ran Bu Yati mulai naik niih…. ,!!!” kata Pak Towadi dan Pak Deran pun berdiri dan menuju pintu dan membukanya dan masuk kembali memegang tali dan betapa terkejutnya saya dikala Pak Deran menarik Tarzan.

Kontol herdernya yang setia, yang selalu menemani mereka jaga. Istrikupun terkejut sepertiku dan Pak Deran mengunci pintu kembali dan Pak Towadi memegang istriku yang akan lari.

“Diaam ?” hardik Pak Towadi “Jangaan paaak ?..” istriku akan mengatupkan kakinya tapi Pak Deran sudah berdiri di depan istriku dan menahan kaki istriku dan Tarzan.

Langsung menyusup di antara kaki Pak Deran yang menahan kaki istriku dan “Aaaaaauuuuwwwwwww. ……Paaaak ?..!!!!” bunyi istriku mengerang dikala selangkangan nya yang gundul dijilati Tarzan.

Rupanya si Tarzan sudah terlatih merangsang perempuan sebab istriku memegang pinggang Pak Deran yang berdiri di depan istriku menahan supaya kaki istriku tetap terkangkang lebar

“Eeeccch eeh eeeeeecchchh ?..wwwuuucccggghhh paaaaak aaaahhcchhchchc ?”

istriku mengerang ddan mendesis keras sebab jilatan Tarzan di selangkangan nya.

“Gimana Ibu Yati? Enak Ibu Yati?” kata Pak Deran terkekeh kekeh

“Paaak ampuuunn adduuuuuuccch aaduuucchh mmmppfsss paaaakkkkzzzzz ? eeh eeh eeeh eh eh?.paakk akuuu wwwwwwuucccch ngngngngngng? ..’ istriku mengerang keras dan memegang erat pinggang Pak Deran sedangkan pantat molek terangakt angkat dikala orgasme ketiganya malam itu meledak dan Tarzan dengan ganasnya terus merangsang kelentit.

Bibir vagina istriku dan hanya terpaut beberapa menit istriku mengerang kembali dikala mencapai orgasmenya yang ke empat dan tubuh istriku pun terjatuh di kursi nafasnya mendengus dengus keringatnya mengalir deras tetapi Tarzan

Kontol herder itu terus merangsang istriku dengan jilatan jilatan mautnya di bibir vagina istriku dan kelentit istriku dan istriku pun mengejang dan mengerang kembali dikala oergasmenya ke lima meledak.

Tubuh istriku benar benar lunglai dan Pak Deran membalikkan tubuh istriku yang terkapar di kursi panjang dan menarik kedua kaki istriku yang tertelungkup di lantai dan bertumpu di kedua lututnya sehingga istriku menungging dan Tarzan rupanya sudah siap dan batang kemaluannnya yang merah sudah membesar dan menegang pribadi melompat di punggung istriku dan Pak Towadi mengarahkan batang kemaluan Tarzan ke liang vagina istriku

“MMmmppppfffh paaak jangaaaaan akuuu mnmmmn nn nggaaak mauuu mmmmppfffff .

Baca Juga Cerita Sex Jilatan Gigolo

uuuucccch ucccchhh ?!!!!!” istriku mengerang dikala batang kemaluan Tarzan menerobos masuk ke liang vagina istriku dan kulihat begitu cepatnya Tarzan mengenjotkan pantatnya sehingga istriku tak lagi sanggup mengerang hanya mendesis

“wwwhhh wwwwhhhhhw wwhwhhhwhw ?..!!!!” dan bunyi kecepak-kecepak di selangkangan istriku semakin keras “”wwwwhhhhcchh wwwccchhhh ngngngngng ?.!!!” istriku mengejan dikala orgasme dan terus entah hingga orgasme yang keberapa hingga sepertinya istriku hampir pingsan.

Saya kini sendirian di ruang elektronik, lampu sudah saya hidupkan kembali, sambil merokok dan menunggu Fanny kembali ke ruang ini, saya termangu-mangu. “Aduh, kini ia panggil saya Mas, padahal saya bossnya, belum lagi jikalau ia hamil”. END Cerita Porno
close