Cerita Sex Sampaumur Melampiaskan Nafsuku Kepada Gadis Sma

Cerita Sex Dewasa Melampiaskan Nafsuku Kepada Gadis SMA

Cerita Sex Dewasa - Seorang gadis yang berjulukan Rini yakni anak terakhir dari 4 saudara dimana ayah dan ibunya menjabat sebagai pejabat di Ibukota Jakarta. Sedangkan saudaranya ada yang tinggal dengan suaminya dan sedang kuliah di luar kota jadi krseharian Rini di rumah hanya sendiri kadang juga ia memonta di temani oleh supupunya yang rumahnyha akrab dengannya.

Sebagai anak ABG yang mengikuti musim masa kini, Rini sangat gemar menggunakan pakaian yang serba ketat termasuk juga seragam sekolah yang dikenakannya sehari-hari. Rok abu-abu yang tingginya beberapa senti di atas lutut sudah cukup menyingkapkan kedua pahanya yang putih mulus, dan ukuran roknya yang ketat itu juga memperlihatkan lekuk body tubuhnya yang sekal menggairahkan.

Penampilannya yang aduhai ini tentu mengundang pikiran jelek para laki-laki, dari yang sekedar menikmati kemolekan tubuhnya hingga yang berhasrat ingin menggagahinya. Salah satunya yakni Arif, si tukang becak yang mangkal di depan gang rumah Rini.

Arif, laki-laki berusia 40 tahunan itu, memang seorang laki-laki yang berlibido tinggi, birahinya sering naik tak terkendali apabila melihat gadis-gadis elok dan seksi melintas di hadapannya. Sosok pribadi Rini memang cukup supel dalam bergaul dan sedikit genit termasuk kepada Arif yang sering mengantarkan Rini dari jalan besar menuju ke kediaman Rini yang masuk ke dalam gang.

Suatu sore, Rini pulang dari sekolah. Seperti biasa Arif mengantarnya dari jalan raya menuju ke rumah. Sore itu suasana agak mendung dan hujan rintik-rintik, keadaan di sekitar juga sepi, maklumlah tempat itu berada di pinggiran kota YK.

Dan Arif memutuskan ketika inilah kesempatan terbaiknya untuk melampiaskan hasrat birahinya kepada Rini. Ia telah mempersiapkan segalanya, termasuk lokasi tempat dimana Rini nanti akan dikerjai. Arif sengaja mengambil jalan memutar lewat jalan yang lebih sepi, jalurnya agak jauh dari jalur yang dilewati sehari-hari lantaran jalannya memutar melewati area pekuburan.

“Lho koq lewat sini Pak?”, tanya Rini.
“Di depan ada kawinan, jadi jalannya ditutup”, bujuk Arif sambil terus mengayuh becaknya.

Dengan sedikit kesal Rini pun terpaksa mengikuti kemauan Arif yang mulai mengayuh becaknya agak cepat. Setelah hingga pada lokasi yang telah direncanakan Arif, yaitu di sebuah bangunan bau tanah di tengah areal pekuburan, tiba-tiba Arif membelokkan becaknya masuk ke dalam gedung bau tanah itu.

“Lho kenapa masuk sini Pak?”, tanya Rini.
“Hujan..”, jawab Arif sambil menghentikan becaknya sempurna di tengah-tengah bangunan kuno yang gelap dan sepi itu. Dan memang hujan pun sudah turun dengan derasnya.

Bangunan tersebut yakni bekas pabrik tebu yang dibangun pada jaman belanda dan kini sudah tidak digunakan lagi, paling-paling sesekali digunakan untuk gudang warga. Keadaan menyerupai ini menciptakan Rini menjadi semakin panik, wajahnya mulai terlihat was-was dan gelisah.

“Tenang.. Tenang.. Kita santai dulu di sini, daripada basah-basahan sama air hujan mending kita basah-basahan keringat..”, ujar Arif sambil menyeringai turun dari tempat kemudi becaknya dan menghampiri Rini yang masih duduk di dalam becak.

Bagai tersambar petir Rini pun kaget mendengar ucapan Arif tadi.

“A.. Apa maksudnya Pak?”, tanya Rini sambil terbengong-bengong.

“Non cantik, kau mau ini?” Arif tiba-tiba menurunkan celana komprangnya, mengeluarkan penisnya yang telah mengeras dan membesar. Rini terkejut setengah mati dan tubuhnya seketika lemas ketika melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat selama ini.

“J.. Jaangan Pak.. Jangann..” pinta Rini dengan wajah yang memucat.

Sejenak Arif menatap tubuh Rini yang menggairahkan, dengan posisinya yang duduk itu tersingkaplah dari balik rok abu-abu seragam SMU-nya kedua paha Rini yang putih higienis itu. Kaos kaki putih setinggi betis menambah keindahan kaki gadis itu. Dan di bab atasnya, kedua buah dada ranum nampak menonjol dari balik baju putih seragamnya yang berukuran ketat.

“Ampunn Pak.. Jangan Pak..”,

Rini mulai menangis dalam posisi duduknya sambil merapatkan tubuh ke sandaran becak, seolah ingin menjaga jarak dengan Arif yang semakin mendekati tubuhnya. Tubuh Rini mulai menggigil namun bukan lantaran dinginnya udara ketika itu, tetapi tatkala dirasakannya sepasang tangan yang kasar mulai menyentuh pahanya. Tangannya secara refleks berusaha menampik tangan Arif yang mulai menjamah paha Rini, tapi percuma saja lantaran kedua tangan Arif dengan kuatnya memegang kedua paha Rini.

“Oohh.. Jangann.. Pak.. Tolongg.. Jangann..”,

Rini meronta-ronta dengan menggerak-gerakkan kedua kakinya. Akan tetapi Arif malahan semakin menjadi-jadi, dicengkeramnya erat-erat kedua paha Rini itu sambil merapatkan badannya ke tubuh Rini.Rini pun menjadi mati kutu sementara isak tangisnya menggema di dalam ruangan yang mulai gelap dan sepi itu.

Kedua tangan kasar Arif mulai bergerak mengurut kedua paha mulus itu hingga menyentuh pangkal paha Rini. Tubuh Rini menggeliat ketika tangan-tangan Arif mulai menggerayangi bab pangkal paha Rini, dan wajah Rini si gadis Sekolah Menengan Atas elok menyeringai ketika jari-jemari Arif mulai menyusup masuk ke dalam celana dalamnya.

“Iihh..”, pekikan Rini kembali menggema di ruangan itu di ketika jari Arif ada yang masuk ke dalam liang vaginanya.

Tubuh Rini menggeliat kencang di ketika jari itu mulai mengorek-ngorek lubang kewanitaannya. Desah nafas Arif semakin kencang, ia nampak sangat menikmati adegan ‘pembuka’ ini. Ditatapnya wajah Rini yang megap-megap dengan tubuh yang menggeliat-geliat akhir jari tengah Arif yang menari-nari di dalam lubang kemaluannya.

“Cep.. Cep.. Cep..”, terdengar bunyi dari bab selangkangan Rini.

Saat ini lubang kemaluan Rini telah banjir oleh cairan kemaluannya yang mengucur membasahi selangkangan dan jari-jari Arif. Puas dengan adegan ‘pembuka’ ini, Arif mencabut jarinya dari lubang kemaluan Rini. Rini nampak terengah-engah, air matanya juga meleleh membasahi pipinya.

Arif lalu menarik tubuh Rini turun dari becak, gadis itu dipeluknya erat-erat, kedua tangannya meremas-remas pantat gadis itu yang sintal sementara Rini hanya bisa terdiam pasrah, detak jantungnya terasa di sekujur tubuhnya yang gemetaran itu.

Arif juga menikmati wanginya tubuh Rini sambil terus meremas remas pantat gadis itu. Selanjutnya Arif mulai menikmati bibir Rini yang tebal dan sensual itu, dikulumnya bibir itu dengan rakus kolam seseorang yang tengah kelaparan melahap makanan.

“Eemmgghh.. Mmpphh..”, Rini mendesah-desah di ketika Arif melumat bibirnya.

Dikulum-kulum, digigit-gigitnya bibir Rini si gadis Sekolah Menengan Atas elok oleh gigi dan bibir Arif yang kasar dan wangi rokok itu. Ciuman Arif pun bergeser ke bab leher gadis itu.

“Oohh.. Eenngghh..”, Rini mengerang-ngerang di ketika lehernya dikecup dan dihisap-hisap oleh Arif.

Cengkeraman Arif di tubuh Rini cukup berpengaruh sehingga menciptakan Rini sulit bernafas apalagi bergerak, dan hal inilah yang menciptakan Rini pasrah di hadapan Arif yang tengah memperkosanya. Setelah puas, kini kedua tangan kekar Arif meraih kepala Rini dan menekan tubuh Rini ke bawah sehingga posisinya berlutut di hadapan tubuh Arif yang berdiri tegak di hadapannya. Langsung saja oleh Arif kepala Rini dihadapkan pada penisnya.

“Ayo.. Jangan macam-macam non cantik.. Buka verbal kamu”, hardik Arif sambil menjambak rambut Rini.

Takut pada bentakan Arif, Rini si gadis Sekolah Menengan Atas elok tak bisa menolak permintaannya. Sambil terisak-isak ia bertahap membuka mulutnya dan segera saja Arif mendorong masuk penisnya ke dalam verbal Rini.

“Hmmphh..”, Rini mendesah lagi ketika benda menjijikkan itu masuk ke dalam mulutnya hingga pipi Rini menggelembung lantaran batang kemaluan Arif yang menyumpalnya.
“Akhh..” sebaliknya Arif mengerang nikmat.

Kepalanya menengadah keatas mencicipi hangat dan lembutnya rongga verbal Rini di sekujur batang kemaluannya yang menyumpal di verbal Rini. Rini menangis tak berdaya menahan gejolak nafsu Arif. Sementara kedua tangan Arif yang masih mencengkeram erat kepala Rini mulai menggerakkan kepala Rini maju mundur, mengocok penisnya dengan verbal Rini. Suara berdecak-decak dari liur Rini terdengar terperinci diselingi batuk-batuk.

Beberapa menit lamanya Arif melaksanakan hal itu kepada Rini, ia nampak benar-benar menikmati. Tiba-tiba tubuh Arif mengejang, kedua tangannya menggerakkan kepala Rini semakin cepat sambil menjambak-jambak rambut Rini. Wajah Arif menyeringai, mulutnya menganga, matanya terpejam erat dan..

“Aakkhh..”, Arif melengking, croot.. croott.. crroott..

Seiring dengan muncratnya cairan putih kental dari kemaluan Arif yang mengisi verbal Rini si gadis Sekolah Menengan Atas elok yang terkejut mendapatkan muntahan cairan itu. Rini berusaha melepaskan batang penis Arif dari dalam mulutnya namun sia-sia, tangan Arif mencengkeram berpengaruh kepala Rini. Sebagian besar sperma Arif berhasil masuk memenuhi rongga verbal Rini dan mengalir masuk ke tenggorokannya serta sebagian lagi meleleh keluar dari sela-sela verbal Rini.

“Ahh”, sambil mendesah lega, Arif mencabut batang kemaluannya dari verbal Rini.

Nampak batang penisnya berair oleh cairan sperma yang bercampur dengan air liur Rini. Demikian pula halnya dengan verbal Rini yang nampak berair oleh cairan yang sama. Rini meski masih dalam posisi terpaku berlutut, namun tubuhnya juga lemas dan shock sehabis diperlakukan Arif menyerupai itu.

“Sudah Pak.. Sudahh..” Rini menangis sesenggukan, terengah-engah mencoba untuk ‘bernego’ dengan Arif yang sambil mengatur nafas berdiri dengan gagahnya di hadapan Rini.

Nafsu birahi yang masih memuncak dalam diri Arif menciptakan tenaganya menjadi berpengaruh berlipat-lipat kali, apalagi ia telah menenggak jamu super berpengaruh demi kelancaran hajatnya ini sebelumnya. Setelah berejakulasi tadi, tak usang lalu nafsunya kembali bergejolak hingga batang kemaluannya kembali mengacung keras siap menerkam mangsa lagi.

Arif lalu memegang tubuh Rini yang masih menangis terisak-isak. Rini sadar akan apa yang sebentar lagi terjadi kepadanya yaitu sesuatu yang lebih mengerikan. Badan Rini bergetar ketika Arif menidurkan tubuh Rini di lantai gudang yang kotor itu, Rini yang mentalnya sudah jatuh seolah tersihir mengikuti instruksi Arif.

Setelah Rini si gadis Sekolah Menengan Atas elok terbaring, Arif menyingkapkan rok abu-abu seragam SMU Rini hingga setinggi pinggang.Kemudian dengan gerakan perlahan, Arif memerosotkan celana dalam putih yang masih menutupi selangkangan Rini. Kedua mata Arif pun melotot tajam ke arah kemaluan Rini. Kemaluan yang merangsang, ditumbuhi rambut yang tidak begitu banyak tapi rapi menutupi bibir vaginanya, indah sekali.

Arif eksklusif saja mengarahkan batang penisnya ke bibir vagina Rini. Rini menjerit ketika Arif mulai menekan pinggulnya dengan keras, batang penisnya yang panjang dan besar masuk dengan paksa ke dalam liang vagina Rini.

“Aakkhh..”, Rini menjerit lagi, tubuhnya menggelepar mengejang dan wajahnya meringis menahan rasa pedih di selangkangannya.

Kedua tangan Rini si gadis Sekolah Menengan Atas elok ditekannya di atas kepala, sementara ia dengan sekuat tenaga melesakkan batang kemaluannya di vagina Rini dengan kasar dan bersemangat.

“Aaiihh..”, Rini melengking keras di ketika dinding keperawanannya berhasil ditembus oleh batang penis Arif. Darah pun mengucur dari sela-sela kemaluan Rini.
“Ohhss.. Hhsshh.. Hhmmh.. Eehhghh..” Arif mendesis nikmat.

Setelah berhasil melesakkan batang kemaluannya itu, Arif eksklusif menggenjot tubuh Rini dengan kasar.

“Oohh.. Oogghh.. Oohh..”, Rini mengerang-ngerang kesakitan. Tubuhnya terguncang-guncang akhir gerakan Arif yang keras dan kasar.

Sementara Arif yang tidak peduli terus menggenjot Rini dengan bernafsu. Batang penisnya berair kuyup oleh cairan vagina Rini yang mengalir deras bercampur darah keperawanannya. Sekitar lima menit lamanya Arif menggagahi Rini si gadis Sekolah Menengan Atas elok yang semakin kepayahan itu, tampaknya Arif sangat menikmati setiap hentakan demi hentakan dalam menyetubuhi Rini, hingga kesudahannya di menit ke-delapan, tubuh Arif kembali mengejang keras, urat-uratnya menonjol keluar dari tubuhnya yang hitam kekar itu dan Arif pun berejakulasi.

“Aahh..” Arif memekik panjang melampiaskan rasa puasnya yang tiada tara dengan menumpahkan seluruh spermanya di dalam rongga kemaluan Rini yang tengah menggelepar kepayahan dan kehabisan tenaga lantaran tak mampu lagi mengimbangi gerakan-gerakan Arif.

Dan kesudahannya kedua tubuh itupun lalu jatuh lunglai di lantai diiringi desahan nafas panjang yang terdengar dari verbal Arif. Arif puas sekali lantaran sudah berhasil melaksanakan hajatnya yaitu memperkosa gadis elok yang selama ini menghiasi pandangannya dan menarik hati dirinya.

Setelah rehat beberapa menit tepatnya menjelang Isya, kesudahannya Arif dengan becaknya kembali mengantarkan Rini yang kondisinya sudah lemah pulang ke rumahnya. Karena masih lemas dan akhir rasa sakit di selangkangannya, Rini tak bisa lagi berjalan normal hingga Arif terpaksa menuntun gadis itu masuk ke dalam rumahnya. Suasana di lingkungan rumah yang sepi menciptakan Arif dengan leluasa menuntun tubuh lemah Rini hingga hingga ke teras rumah dan lalu mendudukkannya di dingklik teras.

Setelah berbisik ke pendengaran Rini bahwa ia berjanji akan tiba kembali untuk menikmati tubuhnya yang montok itu, Arif pun lalu meninggalkan Rini dengan mengayuh becaknya menghilang di kegelapan malam, meninggalkan Rini si gadis Sekolah Menengan Atas elok yang masih terduduk lemas di dingklik teras rumahnya. Cerita Bokep
close