Cerita Sex Dewasa Menikmati Tubuh Janda Mungil
Cerita Sex Dewasa - Namaku Eric, pangilan akrabku kuanggap bagus dan selalu membawa kehokian yg baik dan ditunjang dgn postur tubuhku yg sangat atletis, tinggi 167 cm dgn berat tubuh 58 kg sangatlah membantuku dalam segala kegiatan. Keramahan serta rendah hati yakni senjataku alasannya yakni saya berprinsip banyak sobat banyak rejeki dan tdk kelewatan pula niscaya banyak perempuan yg tergoda.
Dgn deretan yg begitu, tentu anda tahu seleraku. Aku sangat menyukai perempuan yg berumur sekitar 30 hingga 37 tahun dimana mereka umumnya sangatlah cantik, berilmu balig cukup akal dan terlihat sangat anggun. Entah mengapa Yang Mahakuasa memberi anugerah kecantikan perempuan yg tepat bila mereka berumur sekitar yg kusebutkan di atas. Aku bekerja di perusahaan R (edited) yg sangat syarat berafiliasi pribadi dgn pelayanan masyarakat dgn posisi yg tidak mengecewakan srategis.
Diawali dgn perkenalanku dgn seorang pramuniaga yg sangat cantik, umurnya sekitar 33 tahun dan memiliki anak satu. Cika namanya, sangat gampang diingat dan sangat yummy terdengar di telinga. Perkenalanku berawal ketika saya sedang berlibur ke Kalimanatan (Banjarmasin).
Perkenalan itu sangat indah dan romantis, disaat matahari karam tertelan air bahari di atas dek ferry kulihat seorang perempuan bersandar di tiang besi dgn rambut yg tergerai melambai-lambai tertiup sepoi-sepoi angin laut, sungguh manis dan s3xy lekuk tubuh dan dadanya membusung ke depan, sweter unggu serta span warna hitam tak sanggup menyembunyikan keindahan tubuhnya.
Dgn langkah yg niscaya kuhampiri dgn sedikit sapaan dan percakapan yg sopan mulailah ia terbawa oleh obrolanku yg sedikit humor dan kadang mengakibatkan gelak tawa yg memunculkan lesung pipinya, ya ampun manis betul mahluk ini.
Setelah puas dgn ngobrol ini itu dan matahari pun aib menampakkan wajahnya ternyata sdh pukul 19:00 WIB, tak terasa sdh perkenalan yg begitu usang di atas dek dan kami memutuskan untuk kembali ke dingklik masing-masing. Kami berjanji akan bertemu kembali jam 21:30 di tiang besi saksi perkenalan kami.
Setelah mandi dan merapikan diri, tak sadar handphone-ku berdering, alarm yg sengaja kupasang telah memanggilku untuk segera naik ke dek alasannya yakni sdh waktunya kujemput bidadariku di atas dek.
“Hai Eric..” sapa merdu Cika menyapaku dgn menepuk punggungku ketika saya memandang lautan.
“Hai, Cik..” sedikit taktik, kubelai rambutnya.
“Maaf Cik..” kataku mesra.
“Ada apa Eric..” balasnya manja.
“Nih benang bikin rusak pemandangan,” jawabku, padahal benang itu semenjak tadi ada di tanganku.
“Oh kau ini sanggup aja Ric..” bisiknya manja.
Cika sdh bercerai 3 tahun yg kemudian dikarenakan suaminya suka berjudi dan mabuk-mabukan yg membuatnya banyak dililit hutang dan kehidupan rumah tangganya selalu tak terhindar akan keributan.
“Kenapa kau tak cari suami lagi, Cik..” tanyaku untuk memecahkan keheningan.
“Ah.. nantilah,” jawabnya, “Aku masih suka sendiri dan masih kunikmati tugas gandaku sebagai ibu dan ayahnya Ranny (anaknya, red) toh masih cukup gajiku untuk membiayainya.”
“Hebat kau Cik, bagitu tegar dalam keadaan begitu. Kurang apa coba.. kau mandiri, cantik, s3xy dan masih muda lagi, akupun mau mendaftar kalo masih ada lowongan.. ahahaha..” saya sengaja tertawa untuk meriuhkan suasana alasannya yakni kulihat beliau membisu dgn wajah agak memerah.
“Hahahhaa..” ternyata beliau tertawa,
“Ah kau ini pantesnya jadi adikku,” jawabnya melecehkan.
“Hahahaha.. saya malah,” terbahak-bahak karenanya, “Lho meskipun adik tp sanggup buat adik untuk si Ranny lho.”
“Mana mungkin,” jawabnya.
“Lha kok nggak percaya.. jangan ketagihan ya nanti,” jawabku.
“Yee.. siapa yg mau,” godanya manja.
“Aku yg mau,” jawabku.
Kamipun tertawa riang.
“Dasar buaya,” jawabnya.
Tanpa sadar kapal bergoyang dan angin semakin kencang dan Cika sdh ada di pelukanku, alasannya yakni terombang-ambing kapal kudekap tubuh sintalnya dan tak luput kupengang buah dadanya yg besar, ternyata diapun membisu saja. Kutahan goyangan kapal dan tak kulewatkan kesempatan itu dgn sedikit fantasiku goyangkan pantatku dan..,
“Ah.. nakalnya kamu..” ternyata diapun menyadari makin nekadnya saya mengambil kesempatan dalam kesempitan sambil mencubit pinggangku,
“Menggoda ya..” bisiknya.
“Ah masa, tp suka kan,” jawabku.
“Hahahaa..” gelak tawapun tak terhindarkan lagi.
“Cik, turun yuk, ancaman nich.. kayaknya angin semakin kencang dan goyangan kapal semakin garang kalo saya yg goyang kau sich nggak masalah, lha ini kapal yg goyang.. hehehe..” ajakku mesra.
“Dasaar.. dasaar, bener-bener buaya kau Eric,” balasnya manja.
“Upsssss.. bukan buaya tp biawak.. hahahha..” balasku.
Kamipun menuju anak tangga, satu persatu anak tangga kami lalui dgn tangan yg melingkari perutnya dan diapun melingkarkan tangannya di pinggangku. Dgn berani kucium telinganya, beliau membisu saja hanya reaksi tangannya saja yg menggenggam perutku dan kamipun sdh hingga di depan pintu yg bertuliskan staff only kemudian kutarik pinggangnya untuk masuk, diapun tdk menolak. Dgn luas ruangan 2 X 4 m2 sangatlah luas bagi kami berdua. Dalam keremangan lampu kulumat bibir tipisnya, nafas kamipun semakin menderu. Ternyata beliau pengalaman sekali dalam french kiss.
Kami berciuman 5 menit lamanya dan beliau mulai membuka sweternya sedang saya membuka jaket kulitku dan kami jadikan ganjal hingga tiada benang sehelaipun yg menempel di tubuh kami berdua. Sungguh indah tubuhnya, dgn ukuran payudara 36B dan belum turun kuanggap sangatlah sempurna. Dalam keadaan berdiri, kulumat bibirnya dan mulailah turun ke tengguk hingga payudaranya dgn puting yg merah muda,
“Seperti masih ABG saja,” pikirku.
Kulumat yg kanan dan kupiin-pilin yg kiri menciptakan suaranya,
“Hmm.. ach.. hmm.. sppt.. Eric teruskan Ric.. aacch, yummy Ricc..” Kepalaku pun ditekannya ke dadanya, tak kupedulikan dia, kuhisap, kugigit-gigit kecil putingnya hingga ia makin menjambak rambutku. Dgn jenggot yg gres kucukur 2 hari yg kemudian kugesek-gesekan daguku di gunung kembarnya.
“Oooh Ericcc.. please masukin dong.. sstt..” Tak kupedulikan ocehannya hingga kulumat perutnya, pusarnya dan karenanya sampailah di gundukan nirwana dunia, sungguh indah.
Mataku terbelalak ternyata tdk ada sehelai rambutpun di sekelilingnya, harum dan wangi yg khas. Wajahnya yg manis tersenyum manis padaku, kuturunkan wajahku sambil terus menjulurkan pengecap di permukaan perutnya terus turun dan hingga di kawasan yg paling kusukai, wangi sekali baunya. Tak perlu ragu.
+
“Ohh.. apa yg akan kau lakukan.. akh..” desahnya sambil memejamkan mata menahan kenikmatan yg dirasakannya.
Beberapa ketika kemudian tangannya malah mendorong kepalaku semakin bawah dan,
“Nyam-nyam..” Nikmat sekali kemaluan Cika.
Oh, bukit kecil yg berwarna merah merangsang birahiku. Kusibakkan kedua bibir kemaluannya dan,
“Cleeekk..” ujung hidungku kupaksakan masuk ke dalam celah kemaluan yg sdh semenjak tadi becek.
“Aaahh.. kau nakaal,” jeritnya cukup keras.
Terus terperinci kemaluannya yakni terindah yg pernah kucicipi, bibir kemaluannya yg merah merekah dgn bentuknya yg gemuk dan lebar itu membuatku semakin bergairah saja. Secara bergantian, kutarik kecil kedua belah bibir kemaluan itu dgn mulutku.
“Ooohh lidahmu.. ooh nikmatnya Eric..” lirih Cika.
“Eric, udah dong Ric, masukin aja.. Ericc oohh.. saya udah nggak tahan nich, please setubuhi aku..” pinta Cika lirih.
Tanpa banyak verbal kumasukkan batang kemaluanku yg panjang dan tegak itu, beliau tersentak,
“Ach pelan dong Say.. sstt..” Kugenjot dgn penuh perasaan, sementara tanganku tdk tinggal diam, kupilin-pilin puting susunya yg mungil.
Hanya sepuluh menit sehabis itu goyangan tubuh Cika terasa menegang, saya mengerti jika itu yakni tanda-tanda orgasme yg akan segera diraihnya.
“Ericccc.. aahh.. saya nggaak.. nggak kuaat aahh.. aahh.. oohh..” desahnya tertahan.
“Tahan Cik.. tunggu saya dulu ngg.. ooh enaknya.. tahan dulu.. jangan keluarin dulu..” Tp sia-sia saja, tubuh Cika menegang kaku, tangannya mencengkram erat di pundakku, dadanya menjauh dari wajahku hingga kedua telapak tanganku semakin leluasa menunjukkan remasan pada buah dadanya.
Aku sadar sulitnya menahan orgasme itu, mungkin alasannya yakni lamanya ku-oral kemaluannya yg yummy itu.
“mmmppphhhh.. ooohhhhh.. aahh.. Eric sayang.. Eric.. ooh enaak.. saya kelauaar.. oohh.. oohh..” teriaknya panjang mengakhiri babak permainan itu.
Aku mencicipi jepitan kemaluannya di sekeliling burungku mengeras dan terasa mencengkram erat sekali, sementara itu batang kemaluanku masih tegak berdiri sedangkan beliau sdh 4 atau 5 kali orgasme.
“Eric, ayo dong Say saya udah nggak tahan nich.. Ericc keluarin dong.. saya hisap aja ya, agar cepat keluar..” Tanpa kusuruh beliau sdh melumat dan menyedot kemaluanku.
“Astaga..” kurasakan tekanan dari dalam batangku tampaknya akan keluar.
“Cik.. CIk.. stop Cik.. saya mau keluar nich..” desahku tertahan.
“Ya udah Eric, masukin aja ke mekiku.. saya jg ingin mencicipi pejumu membajiri mekiku.. saya kangen, udah usang nggak ada yg membanjiri mekiku dgn peju..” balas Cika dgn nada manja dan sedikit genit.
“Aach.. Cik, saya mau keluar nich Cik.. ach.. achh..” saya lemas lunglai tak berdaya di atas tubuh Cika yg s3xy itu.
“Makasih ya Eric..” Kamipun tertidur dan saya terkejut ketika terbangun sdh pukul 05:00, untung saja tdk ada yg memergoki perbuatan kami.
Setelah merapikan diri, kamipun kembali di kursi masing-masing dan kami berjanji akan bertemu kembali di kota, kebetulan kami satu kota. Sampai ketika ini kamipun masih sering berafiliasi dgn komitmen kebebasan yg menghargai serta menjunjung seks yg sehat.END Cerita Porno

